Home FILM Sejarah Film Indonesia, Periode 1900 – 1942

Sejarah Film Indonesia, Periode 1900 – 1942

0
199
Loetoeng Kasaroeng adalah film pertama yang diproduksi di Indonesia. Film bisu ini dirilis pada tahun 1926 oleh NV Java Film Company. Disutradarai oleh dua orang Belanda, G. Kruger dan L. Heuveldorp dan dibintangi oleh aktor-aktris pribumi, pemutaran perdananya di kota Bandung berlangsung dari tanggal 31 Desember 1926 sampai 6 Januari 1927 di dua bioskop terkenal Bioskop Metropole dan Bioskop Majestic. Film Lutung Kasarung ini tercatat pernah diremake 2 kali yaitu tahun 1952 dan 1983. Film ini dibuat berdasarkan cerita pantun dengan judul yang sama, yang berarti 'Si Lutung yang Tersesat', yang pada masa itu masih populer di masyarakat Sunda, dengan tokoh utama yang menyerupai seekor lutung.(wikipedia)

GAMBARIDOEP.COM – Dalam Wikipedia ditemukan bahwa era awal perfilman Indonesia ini diawali dengan berdirinya bioskop pertama di Indonesia pada 5 Desember 1900 di daerah Tanah AbangBatavia dengan nama Gambar Idoep yang menayangkan berbagai film bisu.

Gambar Idoep merupakan pemutaran film dokumenter perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag. Tempat pemutaran film ini bertempat di sebuah rumah di sebelah pabrik kereta Maatschappij Fuchss di Kebon Jae, Tanah Abang. Pemutaran film ini diulas dalam surat kabar Bintang Betawi yang terbit 4 Desember 1900. Tiga tahun setelah pemutaran perdana ini, tempat pemutaran yang awalnya merupakan rumah seorang pengusaha diubah menjadi bioskop bernama The Royal Bioscoope tanggal 28 Maret 1903.

Pemutaran film ini merupakan tonggak diperkenalkannya bioskop di Indonesia. “Gambar idoep” sendiri sebenarnya merupakan sebutan untuk film pada zaman itu. Pada hari itu, harga tiketnya adalah f2 untuk kelas I, f1 untuk kelas II, dan f0,5 untuk kelas III.

Salah satu hal yang menarik dalam pemutaran film perdana ini adalah pemilihan tayangan pukul 7 malam. Kelihatannya pemilik bioskop sudah memperhitungkan dengan cermat pemilihan waktu ini. Hal ini dikarenakan pada tahun-tahun tersebut, jenis hiburan yang ada di kota-kota di Indonesia saat itu hanyalah komedi stambul dan opera Melayu, yang waktu mulainya berkisar jam 9 hingga 12 malam. Sehingga, ada jeda waktu kosong antara jam pulang kerja (jam 5-6 sore) hingga waktu pemutaran hiburan ini. Oleh karena itu, pemilihan waktu jam 7 malam dianggap pas. Sejak 1 Januari 1901, harga tiket diturunkan menjadi f1,25 untuk kelas I, f0,75 untuk kelas II, dan f0,25 untuk kelas III. Saat itu pun pemilik bioskop memberlakukan peraturan yang rasialis. Orang Tionghoa, Eropa, dan India minimal harus membeli tiket kelas II, sedangkan orang Jawa dan Islam hanya boleh membeli tiket kelas III.

Film pertama yang dibuat pertama kalinya di Indonesia adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp. Film ini dibuat dengan didukung oleh aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung.

Setelah sutradara Belanda memproduksi film lokal, berikutnya datang Wong bersaudara yang hijrah dari industri film Shanghai. Awalnya hanya Nelson Wong yang datang dan menyutradarai Lily van Java (1928) pada perusahaan South Sea Film Co. Kemudian kedua adiknya Joshua dan Otniel Wong menyusul dan mendirikan perusahaan Halimoen Film.

Sejak tahun 1931, pembuat film lokal mulai membuat film bicara. Percobaan pertama antara lain dilakukan oleh The Teng Chun dalam film perdananya Boenga Roos dari Tcikembang (1931) akan tetapi hasilnya amat buruk. Beberapa film yang lain pada saat itu antara lain film bicara pertama yang dibuat Halimoen Film yaitu Indonesia Malaise (1931).

Pada awal tahun 1934, Albert Balink, seorang wartawan Belanda yang tidak pernah terjun ke dunia film dan hanya mempelajari film lewat bacaan-bacaan, mengajak Wong Bersaudara untuk membuat film Pareh dan mendatangkan tokoh film dokumenter Belanda, Manus Franken, untuk membantu pembuatan film tersebut. Oleh karena latar belakang Franken yang sering membuat film dokumenter, maka banyak adegan dari film Pareh menampilkan keindahan alam Hindia Belanda. Film seperti ini rupanya tidak mempunyai daya tarik buat penonton film lokal karena dalam kesehariannya mereka sudah sering melihat gambar-gambar tersebut. Balink tidak menyerah dan kembali membuat perusahaan film ANIF (Gedung perusahaan film ANIF kini menjadi gedung PFN, terletak di kawasan Jatinegara) dengan dibantu oleh Wong bersaudara dan seorang wartawan pribumi yang bernama Saeroen. Akhirnya mereka memproduksi membuat film Terang Boelan (1934) yang berhasil menjadi film cerita lokal pertama yang mendapat sambutan yang luas dari kalangan penonton kelas bawah. (bersambung)

sumber Wikipedia

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here