Beranda FILM MENGULAS ULANG 2 FILM, STOLEN GOODS & JING ZHE DARI ANTOLOGI HOROR...

MENGULAS ULANG 2 FILM, STOLEN GOODS & JING ZHE DARI ANTOLOGI HOROR : TALES FROM THE DARK

256
0
Stolen Goods ( Tales from the dark part 1)/ist

GAMBARIDOEP.COM –  ” Tales from the dark ” part 1 dan part 2 di produksi dan dirilis tahun 2013. Mendapat sambutan hangat di Hongkong begitu juga ketika film ini beredar keluar Hongkong. “Tales from the dark” tayang ulang di Netflix ini menjadi kesempatan baik penulis untuk mereview ulang terutama part 1.

Seperti yang sering terjadi dalam sebuah antologi film sering terjadi ke tidak seragaman kwalitas. Itu diakibatkan banyak faktor dari naskah/ skenario hingga penyutradaraan. Begitu juga dengan “Tales from the dark” walaupun berstatus sebagai film laris baik part 1 maupun part 2 tetapi part 1 memiliki kekuatan lebih.

Jing Zhe ( Tales from the dark part 1 )

Part 1 berdurasi 112 menit terdiri 3 film. Film pertama ” Stolen Goods ” disutradarai Simon Yang. Film kedua ” A Word in the Palm ” disutradarai oleh Lee Cing Ngai dan ” Jing Zhe ” disutradarai Fruit Chan.

” Tales from the dark ” di adaptasi dari buku karya Lilian Lee yg ditulis untuk koran. Lilian Lee penulis novel dan skenario laris di Hongkong. 1985 mendapat award sebagai penulis skenario terbaik. 1989 di nominasikan kembali. Film yang diangkat dari karya dia diantaranya ” Farewell my Concubin ” (1993) yang mengantar sutradaranya kekancah dunia. Film itu sendiri mendapat Palme d’Or Cannes.

Novel Lilian mencampur tradisi Cina, Supranatural dengan latar belakang kuat keseharian masyarakat Hongkong. Tradisi Cina merupakan akar budaya masyarakat Hongkong. Dunia arwah, mahluk yg hidup dalam dimensi lain, hantu memiliki jembatan penghubung ke dunia nyata. Komunikasi supranatural dalam berbagai bentuk ( bahkan kepentingan ) dipercaya dan diakui menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian.

Bagi masyarakat Hongkong dunia nyata dan dunia alam gaib sangat mampu secara fisik saling mempengaruhi. Tentu kita tahu hal ini bersumber dari tradisi atau kepercayaan/agama lama Cina dan menjadi budaya masyarakat Cina dimanapun di seluruh dunia.

Pada ” Tales from the dark ” part 1 budaya itu ditampilkan bukan sekedar latar belakang tetapi satu kesatuan, menjadi cangkang cerita yg apikm
Film pertama : ” Stolen Goods ” sutradara : Simon Yam, penulis naskah dan skenario: Lilian Lee.

Ini kisah seorang perempuan tua paranormal kaki lima : Chu ( Susan Shaw ). Film ini dibuka dengan arwah anak kembar perempuan yang berlarian di jalan lengang dan arwah laki laki gendut yang dipaksa terus makan dan mengeluh tidak mampu lagi makan. Penampilan mereka digambarkan seperti hantu dalam tradisi Cina, putih mencolok dengan bedak kasar retak retak. Setelah adegan ini (nyambung) yang dianggap tidak nyambung oleh beberapa kritikus) baru cerita dimulai.

Kwan ( dimainkan juga oleh Simon Yam ) seorang pekerja kasar bangunan yang suka mencuri barang barang orang mati. Karakternya yang buruk dan aneh membuat dia dipecat dari pekerjaannya. Kwan penderita imsonia menghuni kamar kecil kumuh yg dipenuhi barang barang remeh temeh yang dicuri dari kuburan. Diantaranya 2 boneka anak perempuan yang selalu diajaknya bicara.

Terinspirasi oleh kata kata kasar majikan yang mengusirnya dari pekerjaan bahwa hanya hantu yang mau mempekerjakan dia, Kwan mencuri abu orang mati. Dia menulis catatan minta tebusan kepada keluarga si mati. Beberapa tidak merespon bahkan ada yang bersyukur karena ahirnya mereka tidak harus datang ziarah tapi ada satu yang minta ketemu ingin membayar uang tebusan asal abu kembali.

Yang datang menemui Kwan arwah dari abu yang dia ambil. Sosok ini arwah dari seseorang meninggal karena kecelakaan. Pada saat kecelakaan itu Kwan ada diantara pejalan kaki yang menonton kejadian itu.

Adegan kecelakaan ini bagian dari drama kecil yg menyentuh. Ketika abu suaminya ia masukan dalam kolom abu dipekuburan sang istri memasukan telepon genggam suaminya dan berpesan untuk menelpon walaupun ia ragu bahwa itu akan terjadi.

Sampai satu hari ia mendapat sms dari suaminya untuk datang ke kuburan. Didepan kolom tempat abu suaminya polisi memeriksa kerusakan yang dilaporkan pengelola kuburan. Sang istri melihat kedalam ia lihat telepon genggam suaminya secara mengherankan ada diluar tempat abu. Saat ia memeriksa telepon genggam itu terekam foto laki laki yang tidak ia kenal ( Kwan ).

Kwan yang gembira didalam kamarnya membuka uang tebusan yang ternyata uang yang biasa dibakar untuk sesaji arwah. Dalam kemarahannya Kwan menyeggol lilin yang segera membakar serenteng petasan yang membuat Kwan terbakar dan mati.

Pada akhir film arwah Kwan bertemu dengan arwah 2 anak perempuan kembar pada opening film. Kwan menjadi pengiring 2 arwah anak perempuan itu ke aherat. Dua arwah yang tidak bisa meninggalkan dunia karena benda yg disayanginya, 2 boneka dicuri Kwan semasa hidup. Setiap Kwan terserang imsonia dia selalu memarahi boneka itu dan Kwan selalu bilang bahwa dia ditakdirkan menjadi pengiring 2 arwah anak itu ke neraka.

Dalam ” Stolen goods ” sesungguhnya ada 3 drama yg saling berkait. Semuanya sangat menyentuh. Kwan, istri yg ditinggal suaminya dalam.kecelakaan dan 2 anak perempuan yg dibesarkan ayah yg bertabiat jahat dan diperlakukan tidak baik oleh lingkungan.
Ketiganya dirangkai dalam sebuah skenario yg cerdik dan penyutradaraan yg efektif. Mampu bertutur sedemikan banyak dengan baik dalam durasi kurang dari 40 menit.

Film ini terasa tidak terburu buru atau penuh gambar yang dimampatkan dalam durasi pendek. Semua mengalir efektif dan cerdas. Artistik memberikan atmosfir kelas bawah pekerja bangunan di lingkungan kumuh dengan proporsional. Jejak pesan dan kesinambungan dengan peristiwa berikutnya tergambarkan dengan alamiah. Secara keseluruhan art directing ” Stolen Goods ” tidak genit namun namun artistik. Simon Yam sendiri bermain sangat bagus. Memainkan dialog pendek pendek namun ditunjang bahasa tubuh yg mengekspresikan kepribadian tokoh dengan pas. Lilian Lee memang perlu dipuji sebagai penulis skenario yang pantas memiliki banyak prestasi.

” Stolen Goods ” yang berdurasi pendek ini mampu menyampaikan seluruh muatan dengan baik. Film yang juga patut mendapat pujian adalah film ke 3 dari part 1.

Film ketiga: ” Jing Zhe “. Sutradara : Fruit Chan naskah/ skenario : Lilian Lee
Ini kisah seorang perempuan tua paranormal kakilima : Chu ( Susan Shaw ).
Chu berprofesi sebagai Da Siu Yan ( pemukul penjahat ) membuka lapak dipojok pasar kakilima di blok pemukimsn kumuh. Ia biasa menjadi langganan kelas bawah yg punya masalah tapi hari itu ia kedatangan dua pelanggan kelas atas dan satu pelanggan yg membawa film ini ke inti cerita.

Da Siu Yan melakukan praktek dengan sihir ( tidak mendapat istilah yg tepat ) memukul orang yg dituju melalui gambar atau foto dengan sepatu. Praktek kuno dari daerah pertanian Cina ini dianggap serius oleh kalangan tertentu. Populer di Guandong dan Hongkong. Pelanggan pertama adalah mertua yang marah kepada anaknya yang berselingkuh. Ini dianggap membuat anaknya melupakan keluarga dan ibunya.

Pelanggan pertama walaupun meminta jasa Chu tapi meragukan praktek itu. Chu mencoba meyakinkan pelanggan pertama dengan memberi brosur yg ternyata berisi tulisan budaya tentang praktek ini bukan rekomendasi kehebatan Chu. Pelanggan pertama pergi bersama cucu-cucunya sambil menyetir mobil membaca brosur. Mendekati ending film adegan membaca brosur ini dibuat paralel editing dengan adegan adegan berikutnya. Tujuannya mengedukasi penonton tentang praktek ini. Ini berhasil dengan baik dan tampak sangat alamiah.

Pelanggan kedua seorang tokoh kota yang populer yang ingin pesaingnya disakiti. Sebelum dan diantara dua adegan ini Lilian Lee menyisipkan adegan penagihan hutang terhadap Chu dan profil kelas marjinal dibawah jalan layang. Sampai pada pelanggan kedua penonton dipastikan mengira bahwa itu adegan yg siap masuk ke inti cerita. Namun ternyata bukan. Skenario ini dengan berani membuat pengantar serius sebelum masuk inti cerita. Padahal film Jing Zhe ini berdurasi pendek. Tapi itulah kepiawaian Lilian dan kehebatan sutradara Fruit Chan meng efektifkan gambar dalam durasi pendek dan tuntutan film yang memikat.

Pelanggan ketiga adalah remaja berbedak putih yg merupakan simbol hantu atau arwah dalam tradisi Cina. Si pelanggan ketiga berkata pada Chu ia ingin membalas menyakiti 3 pria satu wanita. Chu mulai memukul kertas berisi gambar 3 pria satu wanita tapi ditengarai memukul dengan setengah hati.

Chu berharap arwah orang mati yg mendapat kembali barangnya yg hilang biasanya pergi meninggalkan dunia karena pencariannya selesai. Tapi ternyata tidak. Chu mengenang kembali peristiwa perkosaan dan pembunuhan seorang remaja yg sekarang arwahnya ada didepannya. Saat itu ia tidak berbuat apa apa untuk menolong sementara peristiwa itu ada didepan matanya didalam sebuah mobil.

Ia ingat remaja itu menggedor gedor kaca pintu mobil memohon kepadanya minta pertolongan. Saat itu Chu tidak bergeming. Setelah mobil itu membawa korban ia menemukan sepatu basket milik remaja itu.

Sepatu itu saat ini dipakai memukul gambar 3 laki laki dan 1 wanita. Berbarengan dengan itu 2 laki laki itu mati oleh peristiwa yang tidak bisa dijelaskan.

Chu menelpon laki laki ke 3 yang saat itu naik lift bersama keluarganya melarang laki laki ketiga untuk keluar apartemen. Karena sambungan telepon yg jelek laki laki itu keluar mencari sinyal dan terbunuh oleh kejadian lain yang tidak bisa dijelaskan.

Chu yang berpraktek disekitar kejadian berlari ke jalan namun tertabrak mobil. Saat itu Chu membuat pengakuan bahwa laki laki ke 3 itu anaknya dia mohon untuk dihidupkan kembali ditukar dengan jiwanya.

Seperti dalam ” Stolen Goods ” film ketiga dari part 1 inipun sangat efektif memanfaatkan durasi pendek. Chu ( Susan Shaw ) bermain sangat bagus dan memiliki kontrol bagus untuk tidak bermain berlebihan. Simon Yam dan Susan Shaw bermain sendirian dan mampu bermain dengan rendah hati. Mereka melebur dengan baik kedalam profil tokoh yang mereka mainkan.

Dua film ini memotret keseharian masyarakat bawah Hongkong dengan tradisi Cina kunonya yang eksotis.

Penonton tidak perlu mempertanyakan hal yang tidak logis dalam film ini. Budaya dan tradisi dipercaya karena kesepakatan kolektif komunitasnya.

Lilian Lee sangat unik dalam memilih dan memprofilkan tokoh utama dan memberi unsur kejutan yang segar. Pada film ke 2 dari part 1 tokoh utamanya seorang pemusik tradisionil Cina yang memilih menjadi peramal. Istrinya yang memandang rendah suaminya memaksa anaknya mempelajari musik barat. Hubungan suami istri itu bermasalah karena sang suami selalu melihat arwah atau hantu. Ditengah ketegangan menyelesaikan pekerjaan terahirnya sang suami mencoba membangun komunikasi positif lewat anaknya yg ternyata menuruni bakat ayahnya melihat arwah. Hal itu kemudian menjadi rahasia mereka.

” Tales from the dark ” part 2 penulis memakai istilah sebuah film yang tidak bermasalah dan ok saja. Namun 6 film dari ” Tales from the dark ” part 1 dan part 2 – ” Stolen Goods ” dan ” Jing Zhe ” harus dipuji.

” Tales from the dark ” part 1 memang pantas kalau kemudian dipakai sebagai film pembuka pada New York Asian Film Festival dan oleh The Hollywood Reporter disebut sebagai film paling memikat. Sayang penulis tidak memiliki akses membaca naskah aslinya. Perubahan dari naskah asli kedalam skenario merupakan masalah tersendiri. Bagi yang belum pernah menonton bisa buka Netflix bagi yang sudah pernah bisa menonton kembali dengan lebih jeli.

Hermawan Rianto (gambaridoep.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here