Beranda EVENT Obrolan: Dasar Seni Rupa Film-Teater (Part 1)

Obrolan: Dasar Seni Rupa Film-Teater (Part 1)

137
0
Ran tahun 1985 epic war drama film director oleh Akira Kurosawa/YOUTUBE
GAMBARIDOEP.COM – Halo sahabat, apa kabar. Salam sejahtera, sehat selalu dari kami-GambarIdoep. Artikel ini semacam sarasehan, meski tak serupa benar, mungkin boleh jadi-obrolan ringan, praktisi independen GambarIdoep, bertukar cerita.
Ada dua hal penting bagi dunia seni-kreatif, panggung teater ataupun film, sehat rohani-
jasmani, karena menghadapi kerja fisik sekaligus kerja pikiran terindah, serentak, cepat
mengambil keputusan estetis, mendesak, jika dibutuhkan.
Hal tersebut bukan persyaratan dasar, akan tetapi merupakan ketentuan utama, bagi insan seni-kreatif atau kreatifitas seni. Karena, sebuah karya seni-hasil totalitas berfikir dalam plot luas perencanaan, mencapai eskalasi ekstase estetis-kusyuk, bercita rasa, citra pencapaian ide-konsep, dalam ranah makrifat seni-kreatif. Kira-kira begitu.
***
Kerja seni-kreatif, kali ini khusus pada bidang seni film, sekaligus seni panggung teater
keduanya bertetangga dekat, secara simultan ada pada ranah fisik-nonfisik. Setelah konsep, ide-daya kerangka pemikiran insan kreatif, wajib segera melangkah ke-dunia realitas, riset, meneliti kebenaran data secara fisik, tata rupa lingkungan hingga sarana fisik ruang kreatif, sebagai lokasi penataan ruang-ruang konstruksi sipil-arsitektural seni film ataupun seni teater.
Mencapai kehidupan panggung realitas fotografis dalam frame kamera film-bertemulah
pencitraan tata cahaya pada ruang-pencapaian atmosfer pengadeganan, tokoh, kostum, make up, detail konstruksi set properti pada film atau pada panggung teater, hand properties alias properti penyerta peranan, sesuai dengan alur dramaturgi pada film ataupun teater, telah terkonsep dalam pemetaan adegan-Skenografer Teater alias Scene Designer ataupun pada film, oleh pemetaan scenery pengadeganan, frame by frame-Director of Photography (DOP) alias Sinematografer-biang kerok karakter fotografis, mampu membangun imaji estetis-serentak dalam tim, bersama film director-sutradara film.
Wajib menggedor penonton sepanjang film berlangsung, seting kamera, menentukan jarak-arah pandang pada tokoh peranan, mencipta titik natural di antara foreground to background, berkesinambungan arah pandang, scene by scene-in frame to out frame, in-out scenery by shot, pada benda-benda bergerak dari rangkaian sebuah film, semisal, mobil, pesawat, kereta api, pedesaan, orang per-orang, koreografi, berdasarkan akurasi detail kebutuhan frame visual penyutradaraan-skenario.
Meskipun hal ihwal fisik-nonfisik, tata rupa, cahaya, efek tertentu pada benda hidup atau mati tersebut, kini, mampu-digantikan oleh sistem grafis kreatif, Computer-generated imagery (CGI), meski tak sempurna benar, CGI, masih harus terus update sistem-kecerdasan, sesuai kebutuhan industri film tertentu, terkini, kadang-kadang kalau tak teliti benar, dari sistem tekno itu, akan masih ada celah kebocoran sinkronisasi dari simulasi tata acuan sistem tersebut, semisal realitas pencahayaan pada ranah digital-daylight, akan mencapai-warm day atau cool day, ini sekadar catatan kehati-hatian, terkecuali, memang ada efek khusus akan dicapai.
Ran tahun 1985 epic war drama film director oleh Akira Kurosawa/Pinterst
Perlu diingat bahwa tekno dimensi grafis CGI, bukan maha dewa, mampu mencipta segalanya, CGI, hanya alat bantu tambahan jika diperlukan-adalah Akira Korosawa, pada masanya, menunggu fajar di puncak bukit, pada karya seni film RAN, dengan kesabaran prima pencapaian kerja kreatif natural, menunggu waktu fajar, sebagaimana cuaca diinginkan-CGI, tekno sistem komputer grafis itu, memerlukan input data, akan bekerja sesuai reka cipta kreasi dari tim kreatif film tersebut, kembali sesuai kebutuhan pada, arahan DOP, penyutradaraan-skenario, termasuk menyesuaikan kebutuhan trend mode, moda estetis tengah menjadi gaya hidup pada public, calon penonton film, serta kekuatan finansial pendukung produksi film tersebut.
***
Lantas apakah realitas panggung teater serupa benar dengan film, ya atau tidak, sama tapi tak serupa, namun ada sebutan begini, antara lain, & panggung pertunjukan teater itu, sangat filmis & atau tata rupa pencahayaan teater itu, mampu mencipta ruang-ruang realitas filmis, lagi, serupa tapi tak sama, kalau mau dibilang tak serupa banget, enggak juga, kalau mau menelusuri segi-segi persiapan implementasi materi seni teater ataupun seni film.
Pada senirupa teater, tampak mata berbeda dengan film, sebab kejadian peristiwa
pengadeganan terjadi di panggung proscenium, arena, trust stage, black box, open stage,
kedudukan kamera digantikan langsung oleh mata penontonnya-kalaupun ada kamera video, lebih pada kebutuhan dokumentasi-alur karakter dramaturgi mengalir mondar-mandir dari panggung kepada penonton saling menggugah perasaan estetika cita rasa peristiwa.
Kembali pada ide-konsep kreatif, skenario, skenografi, koreografi, penyutradaraan, serta
segudang kelengkapan set properties, moving properties, berikut juga properti penyerta
peranan-hand properties, costume, make up. Backdrop, membangun atmosfer perubahan
dalam ranah tata cahaya, jarak antara alias blocking, mendorong karakter peranan menjadi terdepan, berhadap-hadapan langsung dengan pemirsanya.
JEAN MICHEL JARRE ELECTRONICA CONCERT/saycurls.com
Konon pada awal abad 19, ketika seni teater telah mencapai puncak ke-modern-an, perangkat Stage Equipment, lighting system, secara menyeluruh, hingga rear-projector to backdrop, dengan bentuk kamera cukup besar sesuai zamannya, atau pun front projector, dalam pengembangan terkini telah marak pula digital stage mapping, bermula dari, musik dunia- antara lain paling menonjol di eranya, Jean-Michel Jarre, era 80-an, mengguncang dunia moda musik kontemporer zamannya, memberi makna digital mapping, mengguncang pop art dunia, setelah Andy Warhol, sejak itu perkembangan stage digital mapping, tak terbendung, tak pula bisa melupakan album the wall dari Pink Floyd, kemudian realitas membumi, rontoklah tembok Berlin, Pink Floyd, kembali konser di reruntuhan tembok itu, dengan tekno circle screen digital, sebuah kegilaan teramat sehat-cerdas.
Barangkali, dunia teater tak seberapa jauh bertetangga dengan dunia film, aktor beken industri film Hollywood, mendominasi nominasi ajang piala film bergengsi, dari panggung Broadway, antara lain, John Travolta, Robert De Niro, Yul Brynner, Marlon Brando, Katharine Hepburn, Annette Bening, Olivia Newton John, Michelle Pfeiffer, Meryl Streep, masih berderet nama- nama lain.
***
Seni peran, bermula dari rangkaian aklamasi independensi, lantas menuju kesepakatan
berdaulat, mufakat, karakter peranan tak lepas dari frame alias bingkai penggambaran adegan secara menyeluruh di seni film ataupun di seni panggung teater, warna-warni ataupun hitam putih, terbentuk oleh cahaya tata rupa seni panggung dalam konsep seting terencana valid, akibat konsep pikiran telah tertata apik, semisal adegan ruang makan di panggung teater ataupun film.
Maka seni rupa panggung teater-film, keduanya memiliki daya ucap seni tata rupa seluas
semesta imaji kreatornya. Pada teater tergambar luas pada frame proscenium, atau, sesuai panggung visualnya. Pada film, pemirsa di hadang estetika layar lebar film-bioskop, perbandingan ukuran lazim keduanya nyaris serupa.
Penonton teater di guncang oleh adegan, musik, dialog, koreografi, berikut ilustrasi penyerta adegan diperlukan, suara sendok berdenting, di antara dialog adegan berlangsung, serentak pencahayaan merubah, atmosfer tata ruang mencapai perbedaan seperti di kehendaki, seketika, ruang penciptaan dramaturgi mengalir memikat pemirsanya, getaran jiwa pada panggung menyampaikan kewajiban komunikasi visual, langsung-verbal, estetika panggung dengan segala kekuatan visual telah terhimpun mendorong pengadeganan, menyergap penonton, jika hal itu tidak tercapai, maka boleh dibilang, pertunjukan teater itu kurang berhasil membangun, elemen komplet dari sebuah adegan. Jadi? Harus berhasil.
Pada film, suara denting sendok garpu, mampu menggenjot visual, dengan ranah diafragma-Big Close Up (BCU), semisal, mengalun tematik di antara diaolog illustrasi musik sebagaimana di butuhkan pada frame by frame – adegan di ruang makan itu, akibat dari inteligensi penyutradaraan, lahir dari kedaulatan kerja kompak tim penunjang keseluruhan dari kebutuhan sebuah film, sekalipun hanya dalam shot pendek sebuah adegan, terutama bisa dilihat dari karakter pencahayaan membentuk ruang pada tokoh, pemilihan pernak-pernik accessories melekat pada tubuh ataupun pada costume, make up, pada ranah ini salah satu pencapaian editing gambar bergerak secara menyeluruh, akan menampakkan kepiawaiannya, semisal, ekspresi wajah, gerakan mata, gerakan bibir, gesture kegelisahan, atau sebagaimana diinginkan
oleh konsep penyutradaraan. (BERSAMBUNG)
Jakarta GambarIdoep, 12 Januari 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here