Beranda FILM MENONTON ULANG FILM GREEN ZONE BERBEKAL FAKTA PERANG IRAQ 2003 TERASA BERBEDA

MENONTON ULANG FILM GREEN ZONE BERBEKAL FAKTA PERANG IRAQ 2003 TERASA BERBEDA

65
0
CIA Kepala Biro Bagdhad Irak/ist

GAMBARIDEOP.COM – Awalnya sebagai seseorang yang berminat pada sejarah penulis membuka internet mencari data tentang perang Iraq. Terutama perang 2003, seberapa besar kerusakan situs Arkeologi akibat hujan bom yang dijatuhkan pasukan Amerika Serikat dan koalisi. Tapi tidak ada data yg cukup. Penulis justru menemukan sebuah data dan komentar menarik tentang film Green Zone film perang Iraq 2003. Walaupun sudah menjadi pengetahuan umum tapi membaca fakta itu dan menonton kembali film Green Zone tetap menggetarkan.

Poster Film Green Zone

Michael Moore seorang penulis buku dan sutradara. Film filmnya bertemakan kritik terhadap perang Iraq, kekerasan dan senjata api serta kebijakan lainnya pada saat Presiden Bush berkuasa. Diahir komentarnya Michael mengatakan : ” ….ini adalah film paling jujur tentang perang Iraq yang dibuat oleh Hollywood !! ”

Film ini adaptasi dari sebuah buku non fiksi laris ” Imperial life in the Emerald City ” (2006) yang g ditulis oleh seorang jurnalis Rajiv Chandrasekaran editor Washington Post. Karyanya ini meraih hadiah Samuel Jackson 2007 dan finalis National Book Award 2006. Rajiv menjabat kepala biro The Post di Bagdhad, Kairo dan Asia Tenggara ia juga meliput perang Afganistan. ” The Emeral life in the Emerald City ” ditulis pada saat ia bertugas di Bagdhad.

Rajiv seorang jurnalis jempolan selama meliput perang Afganistan, The Post memuat tulisannya 138 kali di halaman depan. Bukunya tentang perang Afganistan juga dianggap buku penting dan terpuji.

Paul Greengras sebagai sutradara dan Brian Helgeland sebagai penulis skenario membuat film yang sangat terbuka sejak awal. Tidak ada misteri walaupun ada kejutan dan kalimat kalimat yang menyentuh dari sebuah bangsa yang inferior didepan sang penguasa yang tampil superior. Untuk nonton ulang penulis mencoba mencari background data tentang situasi saat itu. Motif dan konspirasi yang mendalangi perang Iraq ini juga siapakah tokoh tokoh kunci dalam Green Zone didunia nyata.

Film Green Zone kalau ingat ( bagi yang sudah menonton ) mengambil waktu 4 minggu setelah invasi Koalisi ke Iraq. Green Zone memotret konflik antara Chief Warrant Angkatan Darat Roy Miller ( Matt Damon ) yang memimpin MET Mobile Exploitation Team dan regunya menemukan kebohongan dan sinyalemen sebuah konspirasi. Chief Warrant Roy Miller didukung oleh CIA kepala biro Bagdad : Martin Brown ( Breenan Gleeson ) yang ingin mengupayakan sesuatu yang lebih baik dari pada meneruskan perang.

Mereka berseteru dengan pejabat Pentagon/ Dephan AS Clark Poundstone (Greg Kinncae). Kemudian ada Jendral Al Rawi ( Yigal.Naor ) jendral Iraq yang sejak sebelum invasi sudah memberi fakta yang sesungguhnya. Tokoh penting lainnya jurnalis Wall Street Journal Lawrie Dayne ( Amy Rian ) dan Freddy ( Khalid Abballa ) veteran pincang simbol kepentingan rakyat Iraq. Penulis mencoba mencari data siapa sesungguhnya tokoh diatas didunia nyata. Dengan pertimbangan bahwa Green Zone sebuah adaptasi dari buku non fiksi sebuah dokumentasi Bagdhad pada era itu tentunya tokoh tokoh diatas bukan rekaan.

Chief Warrant Roy Miller pada kehidupan nyata adalah Richard ” Monty ” Gonzales Chief Warrant Angkatan Darat Amerika Serikat yg ditugaskan memimpin team Eksploitasi Seluler Senjata Pemusnah Masal ( MET Alpha – WMD ). Ia memimpin team gabungan beberapa saat setelah awal invasi. Warrant adalah istilah kepangkatan pada militer biasanya bintara senior dengan spesialisasi kusus dan perintah penugasan kusus.

Monty seorang idealis dengan prestasi dan spesialisasi jempolan. Ia belajar bio medical, bachelor of science dalam psikologi dan beberapa tanda jasa. Sebelumnya Monty atau Chief Gonzales begitu sebutannya ditugaskan di Eropa sebagai perwira pentargetan di tingkat Brigade mendukung operasi Bosnia & Kosovo 1997- 2000.

Chief Warrant Officer Miller bertemu Freddy veteran pincang perang Iraq Iran/ist

Di Bagdhad ia memimpin regu untuk menyisir area yang diduga lokasi dan tempat penyimpanan atau pembuatan senjata pemusnah masal Iraq. Dalam Angkatan Bersenjata Amerika Serikat Chief Warrant disejajarkan dengan posisi perwira.

Martin Brown CIA kepala Biro Bagdhad oleh beberapa sumber adalah Jay Garner. Kepala Kantor Rekonstruksi dan Bantuan Kemanusiaan yang dibentuk setelah invasi 2003. Posisinya secara mengejutkan diganti oleh Paul Bremer sebagai Kepala Otorita Sementara Koalisi. Dalam film Green Zone sebagai pejabat intelejen Pentagon / Dephan AS. Jay Garner dan Paul Bremer terlibat perbedaan pendapat dalam mengelola Iraq. Tindakan Paul Bremer atas mandat Presiden Bush membubarkan semua badan pemerintahan Iraq dari kementrian, badan pelayanan sosial, militer hingga Partai Ba’ath.

Praktis dibawah Paul Bremer Iraq dikendalikan Amerika Serikat dan koalisinya. Sikap yang mirip penjajahan kolonial ini nanti melahirkan konflik yang tidak berkesudahan.

Jurnalis Wall Street Jurnal Lawrie Dayne adalah Yudith Miller mantan reporter New York times. Pencarian tokoh tokoh yang sedungguhnya dalam Green Zone sebagian atas dasar dugaan karena banyak data yang tidak bisa diakses ( atau penulis tidak mampu menemukan ). Bisa jadi Brian Helgeland ( penulis skenario ) menambahkan tokoh simbolik untuk kepentingan cerita.

Pada awal tahun 2000an pemerintahan George W Bush ( AS ) dan Tony Blair ( Inggris ) menuduh Saddan Husein membangun senjata pemusnah masal dalam jumlah besar. Penyelidikan oleh PBB dan Badan Atom Internasional dilaksanakan pada November 2020 hingga Maret 2003 berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB 1441 tidak lama sebelum Iraq diserang.

Amerika Serikat mengklaim bahwa Saddam Husein tidak bekerja sama dalam penyelidikin itu dan melanggar resolusi 1441. Namun Amerika Serikat tidak berhasil mendapat mandat Dewan Keamanan PBB untuk menggunakan kekuatan militer. Presiden Bush secara atraktif dan ambisius mengklaim bahwa cara cara damai tidak akan mampu melucuti Iraq. Amerika Serikat dan Inggris serta pasukan koalisi memulai perang Iraq. Dari bukti bukti yang dikumpulkan oleh berbagai pihak kemudian tuduhan Amerika Serikat tidak berdasar. Iraq telah menghentikan produksi senjata pemusnah masalnya tahun 1991.

Buku yang diadaptasi untuk film Green Zone/ist

“Untuk melucuti Iraq, membebaskan rakyatnya dan Dunia dari bahaya besar ” itu yang disampaikan Bush kepada Dunia. Laporan Iraq Survey Grup dan CIA mengatakan bahwa Saddam Husein telah memusnahkan senjata pemusnah masal tahun 1991 dan tidak punya kemampuan untuk memproduksi kembali selama bertahun tahun. Perang ini sendiri disebut sebagai perang yg penuh kebohongan besar dan kesalahan besar Amerika Serikat, perang yang paling memecah belah dan kekacauan intelejen yang paling memalukan.

Pada 19 -3 – 2003 tepat setelah bom mengguncang Bagdhad, presiden George W Bush mengumumkan bahwa pasukan Amerika Serikat dan koalisi yang didominasi Inggris menyerang Iraq.

Film Green Zone kalau ingat ( bagi yang sudah menonton ) terjadi diujung perang Iraq dan temuannya ada diantara investigasi PBB pada 2002 – 2003 dan investigasi Iraq Survey Grup/ CIA. Dalam Green Zone diperlihatkan konflik kepentingan beberapa pihak. Pentagon/Dephan Amerika Serikat yang mendukung perintah presiden Bush dengan pasuksn kususnya, CIA yg mencium sebuah konspirasi kebohongan dan regu penemu kasus, jendral Al Rawi dan Freddy sebagai simbol aspirasi rakyat Irak.

Green Zone sendiri sebuah film yg lurus dan terbuka tanpa kejutan yg fantastis. Tapi Paul Greengras memang patut diacungi jempol. Film ini sebagian besar diambil dengan kamera panggul ( handheld ). Sehingga efek kamera bergoyang maupun tergetar ( ketika kameramen melangkah atau lari ) memberikan efek realistis. Ini juga didukung pergerakan kamera yg cepat ditambah editing pendek pendek disetiap perubahan adegan juga frame kamera yg ketat ( sebagian karena konsekwensi handheld ). Panik, tegang mampu di tumbuhkan dengan efektif.

Green Zone dimulai saat Chief Warrant Offifer Roy Miller dan regunya mendapati bahwa target fasilitas berprioritas tinggi senjata pemusnah masal Iraq sesungguhnya kebohongan. Ia didukung Kepala CIA Biro Bagdhad Martin Brown. Keduanya ingin menyampaikan fakta ini kepada pemerintah AS untuk merubah strategi pengendalian Iraq. Namun hal ini dibantah oleh Clark Poundstone pejabat intelejen Pentagon/ Dephan AS yang mengemban mandat presiden Bush.

Keberanian menggunakan kamera handheld pada sebagian besar adegan ( terutama perang ) dimulai sejak film Platoon ( Oliver Stone 1986 ). Sejak itu banyak sutradara sependapat bahwa teknik ini cerdas dan efektif untuk menampilkan efek kekacauan, ketergesaan dan panik.

Ditengah eksodus rakyat Iraq yg keluar dari area perang, hancurnya kota dan rakyat yang membutuhkan pasokan air minum muncul tokoh Freddy, veteran perang Iraq Iran berkaki satu.

Freddy melaporkan kepada Miller keberadaan Jendral Al Rawi salah satu jendral Saddam dalam persembunyian. Perang menjadi perburuan untuk saling menguasai Al Rawi.
Clark Poundstone didukung pasuksn kusus dengan semua fasilitas yg tersedia. Miller dengan regu kecilnya didukung Martin Brown yang telah diambil alih kewenangannya oleh Clark Poundstone. Al Rawi yang mencurigai semua pihak menculik Miller ini memberi alibi dan legalitas kepada pasukan kusus yang sejak awal diperintahkan memunuh Al Rawi. Pada ending cerita Miller berhadapan dengan Al Rawi yang diketahui pemegang data paling faktuil bahwa sesungguhnya senjata pemusnah masal tidak ada. Miller ingin membawa Al Rawi ke AS untuk membongkar konspirasi yg merancang invasi Iraq.

Konspirasi yg memanipulasi data intel/ informan palsu berkode Magellan yang di unggah dalam media dimana Lawrie Dayne bekerja sebagai jurnalis. Pada saat kritis ketika Miller dan Al Rawi berhadapan muncul Freddy menembak mati Al Rawi.

Ketika Miller terpaku oleh perbuatan Freddy, Freddy berkata : “It’s not for you to decide what happens here ! “. Ini kata kunci yg menutup film ini. Bahwa Iraq ditentukan oleh kehendak rakyat Iraq. Ini digambarkan juga ketika pertemuan perwakilan Arab menolak tokoh yang dianggap boneka Amerika Serikat.

Seluruh film dimainkan dengan dingin sesuai karakter tentara dalam situasi perang. Freddy satu satunya tokoh yang bermain dramatis dan emosional. Dia memang menjadi simbol kegetiran rakyat Iraq. Film ini ditanggapi dalam berbagai sikap. Ada yang beranggapan ini film anti Amerika tapi sebagian besar menganggap film ini katalisator untuk membicarakan kebohongan Amerika Serikat. Dalam perang Iraq yang diberi label “Operation Iraqi Freedom” diisi oleh berbagai pertunjukan pembinasaan umat manusia dengan teknologi perang muthakir. Pembom yang dilengkapi kamera membuat penonton tv dirumah bisa melihat langsung ketika target meledak menjadi gumpalan api dan asap hitam besar.

Perang ini juga menjadi ajang promosi dari Rudal Patriot yang di klaim banyak menghancurkan Rudal Scud milik Iraq buatan Uni Sovyet. Namun ini menjadi skandal lain ketika CNN yg ditengarai sebagai media resmi perang Iraq dianggap memanipulasi gambar gambar rudal Scud meledak tertembak rudal Patriot.

Patriot dibuat Raytheon Company sebuah kontraktor pertahanan terbesar no. 5 didunia. Sampai tahun 2005 pendapatan Raython 90 % didapat dari kontrak kontrak pertahanan.
Komentar sinis beberapa media menganggap Paul Bremer memiliki hubungan dengan Raython Company. Bahkan setelah Amerika Serikat dan pasukan Koalisi resmi keluar dari Iraq spekulasi atas perang yang penuh kebohongan ini terus bergulir. Investigasi New York times melaporkan antara lain ditemukannya amunisi senjata kimia yang cangkangnya di buat di Amerika Serikat diproduksi di Eropa dan diisi dengan jalur produksi Iraq oleh perusahaan barat.

Juga dugaan dugaan dipakainya amunisi yg memiliki efek radiasi. Banyak para veteran perang Iraq memiliki masalah pada bayi bayi mereka. Namun korban terbesar adalah rakyat Iraq ketika invasi bukan saja menghancurkan instalasi militer Iraq namun juga meluluh lantakan pusat industri dan berbagai sumber daya Iraq. Iraq praktis menjadi negara primitif yg seluruh kebutuhan penunjang kehidupan bergantung kepada Koalisi tentunya tidak cuma cuma.

Ini dosa Amrik kagak bisa di maafin ngerusak Kota 1001 malem dan banyak artefak hilang 15 Desember 2011 perang Iraq dinyatakan berahir dengan ditariknya seluruh pasukan Amerika Serikat dan koalisi.

Badan riset konggres Amerika Serikat memperkirakan negara itu mengeluarkan hampir US $ 802 milliar. Namun pemenang Nobel Ekonomi Joseph Stiglitz dan akademisi dari Harvard Linda Blimes memperkirakan US $ 3 triliun dengan memasukan dampak terhadap anggaran negara dan efek pada perekonomian. Tentunya ini tidak termasuk kerugian Iraq.

Menurut survey John Hopskin korban jiwa perang Iraq mencapai 392.979 – 942.636 jiwa. Namun perhitungan korban jiwa perang dan efeknya menurut survey terahir mencapai 460.000 jiwa. Tidak berhenti disitu saja kesalahan Amerika Serikat /Paul Bremer dalam menangani Iraq juga dianggap mendorong kebangkitan ISIS. Perang yg gegabah, bodoh tidak berdasarkan alasan namun nafsu dan politik bukan prinsip ( komentar Obama ). Perang yang paling memecah belah, perang penuh kebohongan dan banyak lagi komentar yg diberikan para tokoh dan media. Ini diikuti permintaan maaf tokoh tokoh yang menganggap dirinya tidak mampu berbuat sesuatu untuk perang Iraq ini.

Perang Iraq adalah bentuk ke sewenang wenangan dari negara super power yg menganggap dirinya polisi Dunia. Banyak investigasi mengatakan invasi itu didalangi oleh banyak kepentingan bisnis. Berita di Indonesia saat itu didominasi CNN sehingga lebih banyak mendapat info dari fihak koalisi. Namun kita beruntung dengan lahirnya kantor berita Al Jazeera  tahun 1996. Pada perang Iraq, Al Jazeera  memberi keseimbangan berita.

Hingga kini Dunia masih tergetar ketika Negeri 1001 malam itu diluluh lantakan oleh perang yg penuh kebohongan. Semua publikasi Amerika Serikat dan koalisi lewat foto dan film kehancuran Iraq bukan dianggap prestasi yg terpuji namun berbalik menjadi pameran pemerkosaan terhadap kemanusiaan.

Film Green Zone dirilis 11 Maret 2010 sudah 11 tahun y.l. Tapi menonton kembali Green Zone dibekali membaca fakta perang Iraq memang terasa berbeda. Green Zone begitu terus terangnya mengkritik skandal pemerintah Amerika Serikat dalam perang Iraq. Kapan film Indonesia punya keberanian seperti ini? Melawan komersialime versi produser. Juga sebuah test case apakah kebebasan berpendapat melalui kebebasan berekspresi memang memiliki ruang ? Ini juga membuktikan republik ini dikendalikan penguasa atau oleh pemimpin yg mendengarkan aspirasi rakyatnya. ***

HERMAWAN RIANTO, GAMBARIDOEP.COM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here