Beranda EVENT Dokudrama Tentang Sosial Media dan Ancaman Dibaliknya

Dokudrama Tentang Sosial Media dan Ancaman Dibaliknya

"TIDAK ADA HAL BESAR YANG MEMASUKI KEHIDUPAN MANUSIA TANPA KUTUKAN" --SOPHOCLES

97
0

GAMBARIDOEP.COM – The Social Dillema sebuah Dokudrama disutradarai Jeff Orlowski diluncurkan pada 23 September 2020 setelah sebelumnya diputar di Sundance Film Festival.

Film ini dibuka dengan kalimat yang tidak menyenangkan dari Sophocles “Nothing vast enters the life of mortals withouta curse”. Apakah karena karakter Sophocles sastrawan Yunani yang digelari salah satu penulis tragedi tebesar, sehingga ia memandang setiap prestasi besar di dunia itu bukan semata mata hadiah untuk umat manusia ? Atau memang seperti itulah sesungguhnya ?

Seperti ironi yang terjadi pada revolver terbaik buatan Samuel Colt (1873) yang dinamai “Peace Maker” justru melahirkan kematian lebih banyak di era wild west.

Mungkin bisa kita baca kembali latar belakang Alfred Nobel memberikan hadiah Nobel yang dibiayai oleh organisasinya. Nobel sipecinta damai dan kemanusiaan pada ahir hidupnya diliputi kecemasan melihat fakta bahwa temuannya (dinamit) lebih banyak digunakan untuk perang dan memberi inspirasi hal yang lebih mengerikan di masa depan.

Begitu juga dengan Sosial Media. Produk teknologi komunikasi ini yang pada awalnya disebut sebagai anugerah ternyata memiliki wajah mengerikan di sebaliknya.

Pada film dokudrama ini digambarkan bagaimana perusahaan perusahaan besar seperti Face Book, Instagram, google dan aplikasi lainnya menelola data pengguna. The Social Dillema membongkar bagaimana sosial media di design sedemikian rupa sehingga melahirkan adiktif/ kecanduan. Pengguna melupakan keamanan data mereka sehingga rentan terhadap penggalian dan eksploitasi data mereka.

Sosial media jangan disalahpahami sekedar menjual data begitu namun juga terstruktur merubah perilaku dan persepsi kita menuju kearah yang dikehendaki. Diujungnya adalah merubah struktur sosial untuk kepentingan perusahaan. Google dan Facebook disebut sebut sebagai perusahaan terkaya. Perusahaan internet menghasilkan triliunan dollar dari iklan, perusahaan terkaya sepanjang sejarah manusia.

“Kapitalisme Industri merubah sumber daya mentah untuk didaya gunakan dan meraih profit. Dalam bisnis ini manusia diubah menjadi sumber daya mentah yg dapat didaya gunakan dan diubah menjadi profit. Itu sebabnya mereka mengumpulkan data tentang kita karena data memberi gambaran model yg lebih baik ” ujar Jeff Orlowski kepada Assosited Pers dikutip oleh VOA.

Perusahaan perusahaan media baru ini hari ini menjadi puncak dari kapitalisme baru. Bisa jadi apa yang mereka dapatkan dari bisnis ini alamiah saja. Namun ada sisi yang tidak terkendali ketika produk mereka digunakan untuk ” kita sebut saja sebagai melenceng dari tujuan awalnya “.

ISIS menggunakan media ini untuk menyebarkan radikalisme. Kelompok Supremasi kulit putih di Amerika memakai untuk propaganda rasisme. Itu hanya dua dari ratusan penggunaan lain yang merusak. Kaum pedopil, blog kejahatan sexual, info menyesatkan yang dibuat untuk banyak kepentingan, ujaran kebencian dll dengan bernafsu menggunakan media ini.

Media ini juga melahirkan generasi yang membangun dunia khayal melalui ide, diskripsi, informasi, kajian agama yang menyesatkan.

Kita kenal istilah Dunia Maya dan penggunanya disebut sebagai ” sahabat Dumay “. Dimana setiap orang secara sadar memanipulasi dirinya dan lingkungan sosial ” Maya ” itu juga secara sadar melegalkan kelompok sosial baru ini.

Kesehatan mental secara tragis juga menempati daftar resiko yg sangat serius. Dorongan bunuh diri, keinginan menjadi sosok imajiner dalam sosial media, rasa takut dan halusinasi pada ancaman palsu, kecanduan pornografi dan berbagai kejahatan lain. Sifat adiktif yg membuat pengguna terus merasa harus memeriksa dan berinteraksi dengan sosial media memang didesign. Ini yang mendorong dibuatnya dokudrama ini.

Dengan sangat terbuka The Social Dillema membahas kebangkitan media baru dan kerusakan yg ditimbulkan dalam masyarakat. Kerusakan ini masuk ke bisnis politik, teori konspirasi bahkan membantu para penganut ” Bumi Datar ” menyebar luaskan idiologinya. Dokudrama ini juga membahas efek serius terhadap kesehatan mental penggunanya.

Ini yang mungkin disebut Sophocles sebagai kutukan.
Renee Dirlesta ( manajer riset di Stanford Internet Observatory, mantan kepala kebijakan data for democracy ), Rashida Richardson ( direktur riset kebijakan di Al Now institute ), Bailey Richardson ( tim awal Instagram 2012 – 2014 ), Joe Toscano ( mantan konsultan design Google, penulis Automating Humanity ), Cathy O’neal ( penulis Weapon of Math Distruction, ilmuwan data ), Jonathan Haidt ( penulis The Righteous Mind Why Good People Are Divided by Politics and Religion ) dan Cynthia Wong ( mantan peneliti internet senior di Human Rights Watch ).

Kekuatan The Social Dillema pada pernyataan para pelaku di bisnis itu. Ada lebih dari10 mantan pelaku industri itu yang diwawancara. Al. Tristan Harris ( mantan ahli etika Google 2013 -2016, salah satu pendiri Center for Humane Technology dst ), Tim Kendall (mantan eksekutif Facebook 2006-2010, mantan presiden Pinterest dst ), Roger Mc Namee ( investor awal Facebook dst ), Justin Rosenstein ( insinyur Facebook 2007-2008, teknisi Google dst), Shoshana Zuboff ( profesor emeritus Harvard School of businnes, penulis The Age of Surveillance Capitalism ), Jeff Seitent ( mantan eksekutif Twitter dst), Sean Parker ( mantan presiden Facebook ), Ana Lembhe (direktur medis pengobatan kecanduan Stanford University ).

Disamping interview kepada pelaku, The Social Dillema juga menyertakan nara sumber yang memiliki konsentrasi pada isu yg terkait ( lihat daftar atas ).

Mereka menerangkan dengan baik ” isi perut ” perusahaan perusahaan internet. Memberikan pencerahan kepada penonton ancaman ketika sebuah institusi bisnis memahami masyarakat lebih dari siapapun sepanjang sejarah manusia.

Opini mereka terhadap kejahatan perusahaan internet yang praktis belum ada sanksi hukumnya. Saran mereka terhadap efek buruk yang ditumbuhkan. Namun juga dilema karena mutlak tidak mampu meninggalkan media baru ini.

Namun tidak dipungkiri media baru ini membawa kebaikan luar biasa. Media ini menghubungkan silaturahmi tanpa kendala, kita bisa membaca tulisan tulisan yang memberi pencerahan, kita bisa membaca,memberikan apresiasi dan bantuan kepada komunitas kemanusiaan dan lingkungan, media ini mampu membongkar kejahatan rezim yang lalim di belahan dunia lain, seseorang bisa mengharapkan bantuan terhadap masalah yang ia hadapi dan ada banyak lagi kebaikan.

Film ini kemudian bertanya kepada narasumber – jadi masalahnya apa dan harus bagaimana ? Pertanyaan juga bisa ditujukan kepada kita dengan pertanyaan yg lebih spesifik – kita ada dibagian mana dari dua wajah sosial media itu ?

Umat Islam paham pesan Allah SWT bahwa manusia adalah khalifah dimuka bumi untuk memelihara ciptaanNya. Begitu juga semua agama Ibrahim dan agama agama yang lahir di timur. Memiliki pesan yang sama. Seharusnya sudah jelas dimana posisi kita menjawab pertanyaan itu.

The Social Dillema dibangun dengan cara bertutur yg sederhana sengaja menghindari kompleksitas masalahnya.

Jeff Orlowski sebagai sutradara juga menulis naskahnya bersama Davis Coombe dan Vickie Curtis tampak sekali membuat The Social Dillema agar mudah diikuti dan dipahami

Sebuah sikap bijaksana dan rendah hati dengan lebih mengedepankan pesan filmnya. Ketimbang keinginan mendapat pujian dengan mennyulit nyulitkan pesan filmnya untuk mengejar imej berkelas.

The Social Dillema dokudrama yg ditayangkan NETFLIX wajib ditonton. Terutama ketika di masa pandemi kita terpaksa tinggal dirumah dan Sosial Media tampaknya menjadi bagian penting siklus kegiatan kita hari per hari bahkan jam ke jam.(Dbs)

HERMAWAN RIANTO, gambaridoep.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here