Beranda EVENT Obrolan: Dasar Seni Rupa Film-Teater (Part 2)

Obrolan: Dasar Seni Rupa Film-Teater (Part 2)

81
0

GAMBAROIDOEP.COM – Kita jumpa lagi melanjutkan kebebasan berpikir, berpendapat menuju imajinasi sehat jasmani- rohani, membuka cakrawala seluas langit di jiwa-jiwa kreatif, segala usia.

Karena seni tak mengenal batas usia, bermula dari remaja akil balig sebagai tolok ukur natural-sederhana, tak perlu riset jutaan dolar atau studi banding-peristiwa perkembangan kepribadian dimulai dari sebuah keluarga, dari sana awal mula batas atau pun puncak pendidikan-tujuan, mau autodidak boleh mau sekolah seni formal boleh, sila kembali pada ketetapan hati, karena etos kerja kreatif mempunyai fakta kunci-hasil karya.

Apapun itu tentu wajib terikat pada aturan moral publik sebuah bangsa-negara, karena seni adalah perasaan; mengamati, pelatihan mandiri, hasil rekaman peristiwa empiris maupun non-empiris.

Lantas, membuncah masuk dalam kemasan intelegensi kreatif, personal atau kelompok,
autodidak ataupun akademis. Damai di hati damai di bumi. Karena seni bersifat perasaan-adaptif, luas, di atas langit masih ada langit, satu guru satu ilmu wajib bersatu, itu sebabnya art creator, dilarang sombong, namun memiliki kewajiban edukatif, pada generasi lanjutan maupun publiknya.

Oke? Mari kita masuk keranah kisah kearifan kreatif selanjutnya.

*

Digital Art vs Fine Art.

Sejak era 1980an, kurang lebih, dunia Seni Gambar diberi kemudahan mengenal teknologi ‘Image-Digital Art’, pada masa berikutnya ada kekhawatiran bahwa ‘Fine Art’, akan tergeser dari pangsa dunia kreatif; “Oh No-lah, tidak.”

Tidak akan pernah, Fine Art, tergeser oleh seni apapun, sekalipun dari sudut pandang istilah, tidak akan pergi ke mana-mana, mengapa? Karena berbeda tempat namun ada keserupaan terapan, waktu juga kebutuhan berakal budi baik dari pandangan pemirsa, pengamat ataupun penggemar seni, Digital Art atau pun Fine Art, sebab, sesungguhnya dari kedua istilah itu masing-masing mengandung watak keduanya.

Fine Art, kalau boleh nih, ditinjau dari ranah fisik, maka ia adalah seni terapan natural, melukis, menggambar, mematung, hingga seni kriya, namun di balik fisik itu terdapat ranah filosofis akal budi, dahsyat, merupakan kekuatan dasar manusia paling purba, apa itu, intuisi estetis, menuju daya cipta, bertemu techno system computer generated imagery, dengan berbagai bentuknya, dari kelas perangkat sederhana hingga rumit-sebagai alat bantu, tidak lebih.

Bertemulah kemajuan teknologi lanjutan, lahir dari peniruan terapan natural-sebagai akibat, menjadi tekno aplikasi adaptif, generasi teknologi komputerisasi. Maka kepurbaan intuisi estetis manusia pemilik estetika natural, mengendalikan system itu, dengan konsep dari desain atau rancang bangun imaji anda, begitukan?

Oleh sebab hal sederhana itu, dalam perkembangannya, Digital Art, melengkapi keberadaan, Fine Art, secara esensial, keduanya saling melengkapi, menjadi lebih meradang untuk mencipta ide-ide gigantik, inovatif, imajinatif, di ranah desain ataupun konsep pemikiran.

Maka validaitas bola salju pemikiran seni era baru dari para-ide kreatif, kedua jenis seni tersebut mampu melahirkan ‘karya seni konkret’ berbasis teknologi komputerisasi berendengan dengan naturalime filosofis-rancangan konsep pemikiran-desain anda.
Perspektif, persepsi pada Fine Art, ataupun, Digital Art, di seni terap tekno maupun non tekno, seiring zamannya menuju publik, masing-masing. Jadi, teman berbudi, tak akan pernah terjadi, Digital Art-versus-Fine Art. Mengapa? Sebab seorang creator bijaksana akan senantiasa mengembangkan keilmuannya, demi generasi lanjutan, tanpa basa-basi politis.

*

Serupa, mungkin mirip ya, dengan lahirnya ‘Seni Fotografi’ pada sejarahnya, awal kelahiran seni fotografi, nyaris membuat khawatir dunia fine art, namun tak sampai terjadi kegaduhan gempa stagnan. Terutama pencinta realism-naturalism, seni melukis potret, misalnya. Fakta, bahwa pada akhirnya seni fotografi segera bersama fine art philosophy, saling melengkapi. Keilmuan modernisme telah menemukan beragam imaji bentuk seni, pada dekade lanjutan, sejak kelahiranisme seni tersebut.

Lantas semakin lengkaplah demokratisasi perjalanan seni, meng-gambar-kan, seni menggambar dengan kamera fotografi, seni menggambar dengan kamera film, lantas ramailah tontonan gambar seni fotografis-di ranah seni gambar bergerak, sinematografi di bioskop atau di sinema.

Ramailah beragam tekno kamera terkini bersaing kecanggihan saling beriringan, Canon, misalnya salah satu perusahaan camera industry, kelas dunia, mendahului lending dengan produk jenis digital camera, unggulannya, susul menyusul kemudian, raksasa camera industry, antara lain, Nikon, Olympus, Leica, menyusul, iPhone, Sony, Samsung-melalui telepon seluler pun, mampu merendengkan kamera canggih di dalamnya-perjalanan sejarah produk-produk tersebut, berkembang menjadi efek mengolah data gambar bergerak maupun tidak bergerak-Cinematography build in by phone.

*

Breaking News:
Kami akan membuat ‘Lomba Film Pendek Indie’, apakah anda berminat? Persyaratan lomba, sangat sederhana, akan hadir di halaman ini dalam waktu, tak lama lagi. Salam jumpa ya, di lomba film pendek kami, di temani para editor-sebagai juri.

Oh! Satu lagi, sila bagi anda penulis resensi film berkualitas, hubungi redaksi kami jika berminat mengirim artikel, akan tayang di halaman GambarIdoep.com, setelah melalui moderasi tim editor kami.

*

Perjalanan masa kejayaan, Expressionism, Abstract, Cubism, Realism, Impressionism,
Surrealism, Modernism, Pop Art-seterusnya berbagai istilah aliran meramaikan angkasa kreatif.

Kini telah global, masih perlukah perbedaan di antara aliran seni tersebut. Tidak. Kan sudah meng-global.

Terpenting, bukan pada penggayaan istilah pada isme itu, akan tetapi, karya anda, adalah identitas kekayaan bangsa, itu sebabnya pula, karya SENI, disebut juga, artefak abadi kebudayaan besar sebuah bangsa-Siapa kreatornya? Anda manusia kreatif berbudi. Bukan para pembuat onar-hoax itu.

Karena, ‘Seni’, adalah salah satu nilai keunggulan-bukan relatif-tapi, bersifat pasti-universal, bisa lahir dari personal atau kelompok usaha berbudi luhur, mewakili kebudayaan bangsanya, bersifat seluas langit kemanapun arah mata memandang-seluas pula pandangan seni itu sendiri. Mengapa?

Karena ‘Seni’, adalah ‘jiwa penciptaan’, menuju publiknya. Jadi, jangan mencurigai, SENI,
ataupun senimannya.

Tulisan ini tidak bermaksud menjadi bijaksana. Seni adalah kebijaksanaan itu sendiri, sangat alamiah, rasional-berakal budi. Mengapa? Kembali pada watak dasar seni itu sendiri; Jiwa penciptaan.

*

Jika, menggaris bawahi, seni-jiwa penciptaan. Yuk! Menilik teks rekan editor GambarIdoep.com, dengan judul ‘Rose Island’, film itu dirilis Netflix, 9 Desember 2020, kisah sebuah kegilaan penciptaan dari hal sederhana, keinginan, cita-cita membuat super negara kecil seluas 400 m2, saja, sila di simak artikel tersebut.

Maka ada sebuah platform, lepas pantai, sebagai rumah persinggahan, di sana ada realitas imajinasi, dari kisah sebenarnya pada 1968. Disini, tim creator teruji membangun konstruksi sipil lepas pantai, lengkap dengan berbagai instalasi elektrik kebutuhan dasar dari platform itu, mencipta persinggahan, serupa dengan kejadian bentuk bangunan sebagaimana kisah aslinya.

Lantas pikiran pemiliknya, medeklarasikan sebagai sebuah negara, dengan perangkat lengkap. Sebuah film, tentu bukan tanpa perencanaan matang, daya ayun ombak, cuaca, kolaborasi landscaping, rekam jejak estetis lingkungan, dampak cuaca pada pencapaian estetika, menjadi unit pemikiran sebuah tim kreatif dari sebuah produksi film sesuai masa waktunya, gaya hidup, budaya, teknologi, wajib menjadi presisi ketepatan, kecepatan, ekonomis, bukan dalam pengertian irit budget, akan tetapi ketepatan perencanaan-post production.

Dalam bentuk dua dimensi, skema perencanaan set, daya jelajah detail adegan-kamera,
menyeluruh, baik interior maupun exterior, hingga apapun, melekat pada ruang-ruang
pengadeganan hingga tubuh seluruh pemain, telah dapat dipastikan, dihitung-valid, tidak bolah ada pembengkakan biaya dengan alasan apapun, saat langkah produksi shooting days.

Semisal, dari makan hingga pencapaian teknologi, apapun, semua itu mampu di rekam jejak dengan pasti, daya elektrik, lama shooting days, teknologi-dari story board, telah tercantum bentuk, visual pengadeganan pada notasi rancangan story line. Jadi baik di film ataupun di pentas panggung teater, tak ada harga ajaib, dadakan, tidak boleh, semua masuk dalam skema post production by plant, kecuali kebutuhan personal, ya bayar sendiri lah hai.

Hal sederhana tersebut bukan mimpi semusim, “akh, mana mungkin, production cost, bisa di hitung sesuai perencanaan.” Kalimat klise, semacam itu lumrah mengudara, kalau mau memproduksi film abal-abal, ya sila tak perlu memakai hitungan pasti, dengan honor tak pasti.

Itu sebabnya pula, para pekerja estetika seni-bayarannya mahal, baik film ataupun teater dalam ranah professional, karena secara personal berpengalaman di bidangnya, lebih dari cukup.

*

Film Tjoet Nja Dhien karya Eros Djarot/Ist

Di negeri ini ada tokoh film, dua generasi berbeda pada masanya, memiliki kecerdasan estetika mumpuni, Teguh Karya, dengan film kolosal, November 1828, lalu pada kurun waktu kemudian, Eros Djarot, dengan film kolosal, Tjoet Nya’ Dien. Hingga hari ini kedua tokoh-serta kedua filmnya belum tergeser sedikitpun kecermatannya, estetika zamannya, mendorong kebudayaan besar negeri ini ke mata dunia.

Lantas mengapa pula Kdrama-Film Korea, sekilat cepat meroket, kerja keras dengan disiplin tangguh, terutama jika diteliti secara seksama, film korea, gemar memberi informasi visual negaranya, scenery keindahan negerinya seakan-akan melambaikan tangan, mendorong realitas tuorisme, untuk mengunjungi negara itu, sila di simak, artikel editor kami, ‘Start Up-Formulasi Kdrama Ala Netflix.

Jadi, barangkali sebuah film adalah sebuah cermin keindahan, di dalamnya terkabar scenery keindahan Dieng, Puncak Jaya Wijaya, bahkan tentang gerimis terindah di negeri ini, misalnya. Sebuah imaji estetis-seni, merupakan kejujuran berbudi luhur sebuah bangsa.***

Jakarta Indonesia, January 24, 2021

(T-GIC)

(BERSAMBUNG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here