Beranda EVENT Film, Media Persuasif-Provokatif

Film, Media Persuasif-Provokatif

125
0
TAUFAN S CHNADRANEGARA/ Photo by Sukma

GAMBARODEOEP.COM – Jangan meradang dulu. Persuasif-provokatif positif, di sini bukan amuk atau dorongan hasutan sekelas penjahat hoax, kambuhan, pengacau keamanan negara. Bukan itu.

Akan tetapi-film, sebagai kekuatan komunikasi universal. Turisme dunia wajib direbut, dengan film dokumentar tentang Papua, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Lombok, Bali, seterusnya 17-ribu lebih, negeri kepulauan ini, memiliki kekuatan wisata sangat eksotis-mumpuni.

Jangan menunggu bola menerjang-bola wajib direbut, dengan satu tendengan tepat pada lini ‘Goal’ jarak dekat-jangan jarak jauh, bola, cenderung meleset.

Seni film dokumentar-destinasi wisata Indonesia-minimum setiap tahun, ada kebaruan informasi mengenai turisme negeri indah ini, wajib dibuat semarak bak bintang di langit, riuh estetis-eksotis- membangun imajinasi, pangsa pasar turisme dunia, wajib direbut-manufer produksi film dokumentar pariwisata-prima, tak sekadar spektakuler namun blur, tak tepat sasaran akibat Post Production, tak mengindahkan Creative Work Plant, dibuat secara tergesa-gesa, pada ranah Scenario-sebagai dasar informasi, ketepatan penyutradaraan, plus kekuatan daya jelajah pemetaan estetika -Director of Photography-(DOP), menuju publik dunia.

Film documenter turisme Indonesia, tak sekadar menyampaikan kabar, bahwa di Bogor, ada Kebun Raya, di Banten, ada Suku Baduy, di Jawa Tengah, ada Borobudur, keren loh, lihat deh, datang deh, tak sampai disitu ajeh-loh. Memerlukan riset cukup waktu, jangan mentang-mentang, alah udah tahu, banyak infomasi tentang itu, begitu-begitu aje. Oh! No lah hai.

Tradisi, ruh kebudayaan, bergerak, hidup sepanjang peradaban, adaptif, pada kini, berdampingan dengan teknologi-sains, dari hal sederhana, kayu putih, berguna hingga kini sebagai penghangat tubuh, lada, garam, cengkeh, kopi, jahe, sangat sains, dengan riset mendalam, mampu mengguncang VOC, tergiur, pada masanya, hingga-malam, sarana teknis utama seni membantik, tenun ikat, gamelan, angklung, seni fotografi, seni film, sendratari-teater, opera Batak, wayang orang, wayang golek, wayang kulit, seni trimatra-dwimatra, wajib terus-menerus estafet tanpa henti, birokrasi- wajib dipangkas agar lebih cepat, menuju pangsa pasar dunia.

Film dokumentar-naturalisme, realisme-kebudayaan besar sebuah bangsa. Tak ada budaya-tradisi, tak ada sebuah bangsa atau negara, di manapun, kini. Kebudayaan, sejak awal mulanya ‘NoMaden’, lantas membentuk perilaku budaya seiring waktu, melahirkan bangsa-bangsa, membentuk negara-di dunia, kaum santun berbudi luhur.

Isu positif-memeluk bangsa-bangsa dunia dengan erat, melalui film documenter, tentang Indonesia, hal sederhana itu akan mendorong swastanisasi produk-produk turisme seluas langit, tak saja pendapatan negara, turisme Indonesia-memberi pengetahuan luas, tentang kita-di dalamnya.

Tufan S Chandranegara – GambarIdoep.Com

Jakarta Indonesia, January 28, 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here