Home EVENT Film “COMING HOME” Ketika Tentang Cinta dan Kesetiaan yang Sederhana Jadi Luar...

Film “COMING HOME” Ketika Tentang Cinta dan Kesetiaan yang Sederhana Jadi Luar Biasa

0

GAMBARIDOEP.COM – Walaupun Coming Home yg disutradarai Zhang Yimou ( 2014 ) sudah cukup banyak resensi yang ditulis tetapi penulis tergerak untuk menulis kembali. Terutama karena film ini menghidangkan sebuah cerita dengan karakter yang bertolak belakang dengan orientasi film belakangan ini. Film ini bisa disaksikan di Neflix.

Coming Home berlatar belakang situasi era Partai Komunis Cina dibawah Mao Zedong dan Kelompok Empat. Mao dan Kelompok Empat dibawah pimpinan Jiang Qing istri terahir Mao menjalankan program Revolusi Kebudayaan Proletariat Besar atau populer sebagai Revolusi Kebudayaa. Kemudian dikenal Dunia sebagai sejarah kelam RRT.

Revolusi Kebudayaan berlangsung dari th 1966 – 1976 namun secara resmi digulirkan th 1969. Komunisme yang awalnya tampak seakan akan digunakan untuk memakmurkan rakyat melawan kapitalisme dan penguasaan hajad orang banyak oleh para land Lord dan Taipan berubah menjadi Diktator Proletariat.

Salah satu program Revolusi Kebudayaan adalah menyerang kaum otoritas akademik yang menentang kebijakan partai dan ideologi Komunisme. Sekolah, kampus tidak beraktivitas. Terjadi dehumanusasi publik, penahanan arbritrari / se wenang wenang, penyiksaan, penghinaan, perampasan properti, kerja paksa, cuci otak dan penghilangan hak-hak individu dll. Negara diawasi Garda Merah badan militan perpanjangan kekuasaan Partai Komunis Cina.

Coming Home bukan sebuah film gegap gempita perlawanan terhadap Komunisme atau film Zhang Yimou sebelumnya yg kompleks. Film ini drama humanis sederhana tentang keluarga seorang Profesor. Tentang cinta dan penantian ditengah tekanan Komunisme dan ekses Revolusi Kebudayaan.

Ketidak sukaan Partai dan program Revolusi Kebudayaannya terhadap kaum akademis membuat Lu Yanshi (Chen Daoming) seorang Profesor harus masuk penjara (Zhang Yimou memberi identitas kecenderungan ideologi Lu Yanshi dengan menarok sebuah piano diruang tamu rumah Lu. Piano merupakan barang langka yg dianggap mewakili kebudayaan Barat ). Kerinduan yg amat sangat kepada Wanyu istrinya (Gong Li) dan anaknya Dan Dan (Zhang Huiwen) yang ia tinggalkan sejak balita membuat Lu Yanshi nekat melarikan diri.

Pelarian Lu Yanshi menjadi kasus besar yg membuat petugas Partai dan Polisi mengawasi apartemen Lu. Mereka menginterogasi Wanyu istrinya sekaligus mengabarkan pelarian Lu Yanshi. Wanyu diuji kesetiaanya terhadap partai yg dijawab dengan jawaban yg mengecewakan petugas Partai. Dan Dan mencari muka petugas Partai dengan memberikan jawaban sesuai semangat Partai. Upaya demi karirnya sebagai penari balet mendapatkan peran utama dalam sebuah pementasan balet Detasemen Merah Perempuan didepan petinggi Partai.

Lu secara sembunyi-sembunyi berhasil mencapai apartemen mereka dan menyisipkan pesan dalam secarik kertas lewat bawah pintu ketika Lu gagal membuka pintu. Lu meminta Wanyu untuk ketemu di stasiun. Ditangga Lu bertemu Dan Dan namun itu bukan pertemuan yg diharapkan karena Dan Dan justru mengekspresikan kemarahan kepada ayahnya.

Chen Daoming sebagai Lu Yanshi
Gong li sebagai Wanyu

Dalam latihan terahir sebelum pertunjukan untuk memilih penari utama Dan Dan sebagai calon terbaik justru digagalkan oleh kasus ayahnya. Sebagai anak seorang pelaku kriminal, begitu kemudian Lu disebut tidak pantas memainkan peran yg sangat terhormat untuk kepentingan Partai.

Dan Dan yg diming imingi untuk bermain sebagai penari utama oleh polisi membocorkan rencana pertemuan ayah dan ibunya di stasiun. Lu Yanshin tertangkap lagi namun Dan Dan tetap gagal menjadi penari utama. Dia bahkan hanya mendapatkan peran tidak berarti.

Setelah program Revolusi Kebudayaan dibubarkan kibajakan Partai Komunis Cina berubah. Semua tahanan di rehabilitasi dan dilepaskan. Lu Yanshin pulang namun menemukan persoalan baru. Dan Dan anak perempuannya yg diharapkan menjadi bintang balet kini menjadi buruh pabrik textil tinggal di asrama setelah diusir ibunya. Dan Dan tidak sempat memberi tahu kondisi perubahan mental ibunya, Lu Yanshin kaget menerima kenyataan istrinya menderita amnesia. Ingatan istrinya hanya sampai pada tanggal dan hari ketika ia menjemput Lu di stasiun.

Wanyu istrinya sama sekali tidak mengenali Lu Yanshi sebagai suaminya. Lu dianggap orang asing.  Upaya Lu Yanshin untuk membangun kembali ingatan istrinya gagal. Bersama Dan Dan anak perempuannya Lu mencoba beberapa siasat. Antara lain mencoba membangun kembali moment yg menjadi kenangan indah Lu dan istrinya. Menyamar sebagai tukang stem piano dan memainkan kembali komposisi yg sering dimainkan Lu tetapi gagal juga. Justru membangkitkan trauma lainnya, pelecehan sexual dari petugas partai selama Lu dalam kerja paksa.

Upaya terahir Lu membawakan surat suratnya yg ditulis untuk istrinya selama dalam kerja paksa tapi belum sempat dibaca. Problem mata Wanyu istri Lu membuat ia kesulitan membaca dan Lu menawarkan diri untuk membacakan. Dalam sekian waktu Lu menjadi orang lain yg berperan sebagai pembaca suratnya sendiri yg ditujukan untuk isttinya. Lu kemudian tahu bahwa istrinya secara teratur pergi sebulan sekali ke stasiun pada jam dan tanggal yg sama untuk menjemputnya. Lu mencoba muncul dibelakang para tahanan yg dilepaskan pada tanggal itu namun Wanyu istrinya tetap tidak mengenali.

Lu mulai membuat surat baru yang disisipkan ke surat2 lama yang belum dibaca. Isi suratnya pesan Lu kepada istrinya untuk menjaga kesehatan dan yang paling penting membujuk istrinya mengajak Dan Dan untuk pulang tinggal bersama kembali. Wanyu yg tidak menyadari trik Lu mulai melaksanakan nasehat Lu dengan gembira termasuk mengajak kembali Dan Dan pulang.

Waktu terus berlalu amnesia Wanyu tidak berhasil disembuhkan. Ritual Wanyu menjemput suaminya terus dilakukan. Di ahir film diperlihatkan Lu mengantar Wanyu dengan rikshaw menjemput dirinya sendiri, suami Wanyu yg tidak pernah ada.

Zhang Yimou sang Sutradara dan Gong Li pemeran utama Coming Home adalah salah satu pasangan sutradara – aktris hebat dalam sejarah film. Mereka bekerja sama dalam karya karya luar biasa a.l Red Shorgum ( film terbaik di Berlin Film Festival ), ” Raise of the red lantern “, ” Shanghai Triad “, ” To Live ” dan beberapa lagi. Walaupun beberapa film Zhang Yimou kena cekal sensor negaranya tapi film2nya disebut sebagai masa kebangkitan film Tiongkok.

Coming Home seperti disebut diatas sebuah film yg (memang)dibuat dengan pendekatan sederhana. Tanpa ledakan emosi yg meluap luap atau air mata. Pemain bermain dengan pengendalian diri luar biasa mencerminkan karakter individu yg hidup dalam tekanan disebuah negara Komunis.

Lighting dan warna sangat terukur, dingin dan terasa senyap untuk mendukung suasana sebuah wilayah di negara dimana kehidupan pribadi terintimidasi oleh rasa takut terhadap petugas partai dan pengawasan setiap saat.

Mencermati detail kerja film Zhang Yimou dalam Coming Home sesungguhnya memberikan banyak pelajaran bagi para sineas dan seni acting. Film ini nyaris tanpa ilustrasi musik. ” Kesunyian ” film ini didukung ekspresi para pemain yg memang sengaja dibangun dalam mimik wajah sangat tertekan menyembunyikan emosi. Khas mereka yg hidup dalam tekanan (sebuah acting yg sulit namun sering kurang diminati dan didalami aktor/aktris kita. Kesalah pahaman dari ketidak tahuan seni acting sering menuduh peran seperti ini sebagai ” tidak bermain maximal “).

Dalam penyutradaraan Coming Home adalah film Zhang Yimou yg menukik tajam kembali ke karya karya awal. Dimana ia banyak membuat film humanis yg menggambarkan ketahanan hidup manusia. Coming Home juga sebuah karya spesial menurut hemat penulis setelah periode Zhang Yimou membuat film film Wuxia yg kaya warna dan glamour.

Tahun 2010 Zhang Yimou mendapat gelar doktor kehormatan senirupa dari Universitas Yale. Masuknya Zhang Yimou ke Hollywood dan membuat film dengan citarasa Hollywood mendapat tanggapan sinis dari para kritikus di negaranya. Namun apapun itu Coming Home adalah salah satu film terbaik Zhang Yimou.

Sebuah film drama cinta dan kesetiaan sederhana yg menyentuh dari novel karya Geling Yan berjudul ” The Criminal Lu Yanshi “. Film Hollywood yang dibuat Zhang Yimou dalam genre Wuxia a.l Hero, House of Flying Dagger danThe Great Wall. Namun karya-karya versi Hollywood walaupun dibuat dengan budget fantastis bukan termasuk karya-karya terbaik Zhang Yimou.

-HERMAWAN RIANTO, GAMBARIDOEP.COM

(foto-foto Neflix)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here