Beranda EVENT TUAN IBRAHIM DAN BUNGA BUNGA DIDALAM QURAN

TUAN IBRAHIM DAN BUNGA BUNGA DIDALAM QURAN

0
Monsieur Ibrahim ( Omar Syarif ) dan Momo ( Pierre Boulanger )/ist

GAMBARIDOEP.COM –  Judul aslinya film ini adalah Monsieur Ibrahim et les Fleurs du Coran. Sebuah film Perancis tahun produksi 2003 yang di sutradarai Franqois Dupeiron. Dibintangi bintang besar Omar Syarif dan bintang berbakat Pierre Boulanger. Sebuah adaptasi dalam versi film dari novel yang berjudul sama karya Eric-Emmanuel Schmitt.

Beberapa perubahan dalam novel dirubah terutama setting waktu dari tahun 70an menjadi ahir tahun 60an. Film ini berlokasi di Paris, Istambul dan Anatolia. Karakter sentral dalam film ini adalah Moses/Momo ( Pierre Boulanger ) seorang remaja Yahudi berumur 16 th dan Monsieur/ tuan Ibrahim seorang pemilik toko kelontong tua yang tinggal sendirian berasal dari Turki.

Momo tinggal di sebuah distrik Yahudi di Paris. Menempati apartemen sederhana berseberangan dengan toko kelontong tuan Ibrahim. Jalan utama distrik itu diramaikan oleh lokalisasi pelacuran.

Momo adalah remaja yang terabaikan oleh keluarganya. Ia tinggal bersama ayahnya yang mengalami depresi dan sibuk dengan dirinya sendiri, memperlakukan Momo untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bersih bersih dan menyediakan anggur setiap ayahnya pulang. Ayahnya yang kehilangan pekerjaan menganggap dirinya tidak lagi mampu merawat Momo. Suatu hari menghilang dengan meninggalkan sedikit uang. Momo yg galau mulai menjual buku-buku peninggalan orang tuanya untuk mempertahankan hidup. Kehidupan para pelacur didekat ia tinggal berpengaruh kepada kesendirian, perkembangan hormon dan keingin tahuan terhadap pengalaman sexual.
Momo mengambil uang tabungannya untuk bisa membayar Sylvi seorang pelacur untuk pengalaman sexualnya. Seluruh pelacur tahu Momo yang setiap hari lalu lalang dijalan itu. Terjadi interaksi yang aneh antara Momo, Sylvi dan pelacur lainya. Mereka memberi Momo kepuasan sexual juga kehangatan sebagai kakak, ibu atau kerabat.

Satu hari terjadi dua kejadian penting yang tidak Momo inginkan. Pertama berita dari polisi bahwa ayahnya bunuh diri dengan melemparkan dirinya sendiri didepan Kereta Api. Kedua kedatangan ibunya yg meninggalkan dia sejak bayi.

Ibunya muncul tiba tiba saat Momo merenovasi apartemennya. Momo membohongi ibunya sebagai Mohamad bukan Momo dan lari kepada Tuan Ibrahim. Tradisi orang Arab membuka tokonya nyaris 24 jam, Tuan Ibrahim yg menghabiskan waktunya menjaga tokonya ahirnya dijuluki sebagai Si Arab. Antara Momo dan Tuan Ibrahim terjadi hubungan emosional kusus.

Tuan Ibrahim seorang Turki yang ditinggal wafat istrinya. Dunianya adalah toko kelontongnya. Dibelakang meja kasir dia selalu membaca Quran ( yang suatu saat ditanya oleh Momo buku apa ). Tuan Ibrahim seorang saleh yang mengenal semua kejadian di area itu termasuk pergaulan Momo dengan para pelacur. Namun tuan Ibrahim seorang saleh bukan seorang penghukum. Seorang yg hidup seperti Sufi dalam versi modern.

Tuan Ibrahim juga tahu kebiasaan Momo mengutil coklat kalau berbelanja di toko kelontongnya. Ketika Momo satu ketika berbelanja dan lupa mengutil coklat tuan Ibrahim justru memberi Momo sepotong coklat. Mengingatkan juga kalau nanti berbelanja lagi ia punyak hak sepotong coklat selama memberitahu kalau mau mengambil.

Kalimat Sufistik yg diucapkan Tuan Ibrahim sangat menarik “Apa yg kamu berikan adalah milikmu selamanya, apa yg kamu simpan adalah bentuk kehilanganmu”.

Kelak ketika tuan Ibrahim membawa Momo ke Turki yg dimaksud sebagai perjalanan spiritual tanpa disadari Momo, beberapa esensi sufistik juga keluar dari mulut tuan Ibrahim. Ketika mereka menyaksikan para Darwis menari berputar putar, tuan Ibrahim berkata “Saat kamu menari hatimu bernyanyi. Mereka berputar disekitar hati mereka dan Tuhan ada di hati mereka “.

Tuan Ibrahim juga mengajak Momo masuk ke mesjid, gereja ortodox dan gereja katolik dengan mata tertutup untuk merasakan atmosfir spiritual. Tuan Ibrahim mengajak Momo melakukan perjalanan darat ke desanya di Turki menggunakan sebuah sedan confertible merah seperti yang selalu Momo impikan. Meninggalkan untuk sementara jalan Rue Blue dan para pelacurnya. dimana mereka tinggal.

Hubungan mereka segera saja menjadi lebih erat secara emosional. Momo banyak bertanya dan tuan Ibrahim menjawab melalui halaman halaman didalam Quran. Momo seperti di adopsi oleh tuan Ibrahim.

Tuan Ibrahim mengetahui banyak mengenai Momo. Kepedihannya, pelariannya kepada Sylvi si pelacur, kehausannya terhadap figur panutan. Tuan Ibrahim menerima semua dengan kedalaman tak berdasar seorang Sufi yang memahami semua kesalahan Momo.

Perjalanan itu merupakan pengalaman pertama Momo keluar Paris. Hubungan diantara mereka makin erat. Tuan Ibrahim mengajarkan banyak hal, menikmati perjalanan itu dengan nurani. Momo merasa mendapatkan panutan sejati yang berbeda dari orang orang yang ia kenal dari orang Turki lanjut usia itu.

Pada ahir cerita tuan Ibrahim mengalami kecelakaan. Momo pulang ke Paris sebagai manusia baru. Melanjutkan toko yg diwariskan kepadanya. Sebuah film menyentuh bagaimana kelembutan yang begitu sederhana mampu membawa manusia menuju kedalam kebaikan tidak memandang ras dan agama. Bagaimana Momo dari keluarga Yahudi yg meragukan firman Nya tersentuh oleh tuan Ibrahim dengan keteguhan Islamnya. Bagaimana Momo ketika membuka Quran warisan tuan Ibrahim menemukan bunga biru yang sudah kering diatara halaman Kitab Suci itu sebagai penyekat halaman. Momo mulai mempelajari ” bunga” didalam Al Quran.

Penulis jadi ingat sebuah quote dari Umar bin Al-Khatab ” Ajaklah seorang menuju Islam walaupun tanpa kata kata. Mereka bertanya: bagaimana caranya ? Dia menjawab: dengan sopan santunmu”.

Untuk penulis film Monsieur Ibrahim et les Fleurs du Coran adalah film religius. Film spiritual yang dihidangkan secara sederhana namun dalam. Film yang tepat ditonton kembali dalam suasana Isra Miraj dan meneladani akhlak mulia Rasulluloh SAW bahwa Islam diturunkan bagi seluruh Umat di muka bumi tanpa kecuali.

CATATAN : Konon perubahan setting waktu dalam film ini dari tahun 70an menjadi 60an karena pertimbangan beberapa hal. Moment dalam film ini hanya bisa terjadi sebelum konflik Palestina – Israel meruncing. Sebelum PLO didirikan th 1964 dan dimulainya Militansi 1965. Sebelum perang 6 hari Israel 1967 dan sebelum Intifadah Palestina pertama 1987. Dengan kondisi saat ini ketika kekerasan di Timur Tengah tidak terkendali, lahirnya fenomena global terorism dan Islam fobia cerita diatas dianggap utopia. Namun cerita yang aslinya sebuah naskah drama dan ditulis kembali dalam cerita 75 halaman tahun 2021 diyakini sebagai sebuah keyakinan dan harapan.***

HERMAWAN RIANTO (GAMBARIDOEP.COM – GIC) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here