Beranda EVENT THREE CHRISTS Seorang Atheis dan Tiga Orang yang Mengaku Kristus

THREE CHRISTS Seorang Atheis dan Tiga Orang yang Mengaku Kristus

0
Kiri kekanan : Leon ( Walton Goggins ), dr. Peter Stone ( Richard Gere ), Clide ( Bradley Withford ) didepan : Joseph ( Peter Dinklage )/ist

GAMBARIDOEP.COM – Pada tahun 1950an penanganan penderita Skizofrenia di sanatorium lebih merusak ketimbang menyembuhkan antara lain menggunakan obat obatan keras, Lobotomi –pembedahan otak dengan memotong atau merusak jaringan otak yang ada dibagian depan kepala hingga kejut listrik.

Film Three Christs sebuah film adaptasi dari buku non fiksi yang dibuat atas dasar studi kasus dr. Milton Rokeach: The Three Christs of Ypsilanti yang diterbitkan tahun 1964. Dr. Milton Rokeach seorang psikiater yang membuat teori penyembuhan penderita Skizofrenia yang dianggap revolosioner saat itu.

TheThree Christ of Ypsilianti adalah studi kasus psikiatri terhadap 3 penderita Skizofrenia paranoid. Dr Milton Rokeach mendapat isnpirasi dari sebuah artikel di Majalah Harper yang mewartakan dua perempuan di Rumah Sakit jiwa yang percaya bahwa dirinya adalah Perawan Maria. Salah satu diantaranya sembuh dianggap sebagai hasil dari percakapan, komunikasi dan interaksi yang terjalin diantara keduanya. Dr Milton Rokeach juga merujuk pada easy Cesare Beccaria On Crimes and Punishment dengan subyek Simon Morin yang memiliki potensi tersembuhkan melalui terapi yang sama.

Dr Milton Rokeach mengumpulkan tiga penderita yang memiliki delusi kepercayaan yang sama untuk berintraksi dibantu beberapa mahasiswa pasca sarjana. Jon Avnet (sutradara) membuat adaptasi filmnya yang dirilis pada 12 September 2017. Film ini menarik karena diangkat dari jurnal medis walaupun ditulis dengan sudut pandang lain.

Saat resensi ini ditulis Three Christs sedang tayang di TV kabel / berlangganan.
Tahun 1959 dr. Peter Stone ( Richard Gere )nama dr. Milton Rokeach dalam film tiba di
Sanatorium penyakit jiwa negeri Ypsilanti, Michigan dengan meninggalkan karir akademisnya.

Berbekal pemahaman yang dianggap radikal bahwa penderita Skizofrenia harus diperlakukan dengan pendekatan baru. Yaitu perawatan, pemahaman, empati dan manusiawi dengan menghapus tehnik pengobatan lama. Sebuah terapi yang saat itu penuh resiko menjerumuskan terapis kedalam dunia kejiwaan para penderita ketika berinteraksi.

Dr. Peter Stone membuat sebuah eksperimen dengan tiga penderita Skizofrenia yang mengaku dirinya Kristus dalam berbagai versi. Joseph ( Peter Dinklage ) Leon ( Walton Goggins ) dan Clyde (Bradley Withford ). Joseph yang bertubuh cebol adalah Kristus yang bersikap agung dan teatrikal menyenangi musik klasik, opera dan imajinasi tentang Inggris masa lalu. Joseph dihantui oleh persekusi yang dia alami karena cacat tubuhnya. Clyde menganggap dirinya Kristus namun selalu ia tambahkan sebagai Kristus yang bukan dari Nazareth. Clyde seorang maniak masturbasi traumatik oleh kematian istrinya yang mengerikan karena efek pengguguran kandungan. Leon, Kristus yang pemarah sekaligus sangat filosofis yang terosebsi secara sexual kepada Becky ( Charllote Hope ) asisten peneliti muda dr. Peter Stone. Leon disamping mengaku dirinya Jesus Christus juga menganggap dirinya Tuhan itu sendiri. Dalam dialog dengan Becky peneliti muda itu tidak mampu menahan diri untuk berhenti pada kedalaman dialog dengan pasien.

Terjebak oleh retorika Leon yang mengaku pernah diperkosa oleh sesama jenis membuka dirinya bahwa ia juga seorang korban pemerkosaan. Trauma Leon terbuka oleh empati “ seorang teman “ yaitu Becky, sesuai dengan diagnosa dr. Stone bahwa penderita Skizofrenia adalah orang yang kesepian dalam dunianya sendiri.

 

Dalam banyak dialog 3 penderita Skizofrenia itu selalu bertanya kepada dr. Peter Stone
pertanyaan yang sama “apakah dr. Stone mau menjadi temannya ?“

Ypsilanti sendiri adalah sebuah Rumah Sakit Jiwa yang dihuni 4100 pasien dan hanya ditangani oleh 5 orang psikiater. Para pasien harus menanggung kekejaman terapi psikiatri tahun 50an yang dipimpin oleh dr. Orbus ( Kevin Pollak ) yang berdalih bahwa pengobatan dalam Rumah Sakit Jiwanya mengikuti standard nasional pengobatan pasien Rumah Sakit Jiwa. Jon Avnet memilih pendekatan hubungan emosional antara dr. Stone dengan 3 orang obyek penelitiannya ketimbang pendekatan otobiografis dr. Milton Rokeach sebagai seorang akademisi. Dr Stone mengumpulkan tiga pasien yang mengaku sebagai pribadi yang sama dengan tujuan mempelajari interaksi diantara mereka.

Interaksi ini diharapkan akan menjadi salah satu terapi penyembuh mulai dengan upaya saling membuka diri. Diawali dengan usaha dr. Stone masuk dan diterima oleh mereka bertiga terjadi interaksi yang manusiawi diantara pasien. Munculnya “ seorang teman “ diantara mereka membuat mereka tampak mulai menjadi “ manusia “ kembali. Dialog Leon dengan dr. Stone pada saat pertemuan mereka yang pertama menarik karena bersumber kepada pertanyaan pertanyaan tentang eksistensi Tuhan. Leon membuat pertanyaan menohok tentang ketidak percayaan dr. Stone bahwa dirinya Tuhan menjebak dr. Stone membuat pernyataan bahwa dirinya “ sulit mengakui adanya Tuhan “ alias Atheis. Ini kemudian menjadi nasehat dr. Stone kepada Becky asistennya bahwa pasien Skizofrenia mampu mengelabuhi terapis dengan kalimat kalimat mereka yang
tidak difahami namum sesungguhnya sebuah simbol atau kalimat bersayap dari maksud yang ingin disampaikan.

Interaksi ketiga Kristus itu pada sebuah moment mempengaruhi dr. Peter Stone yang membuka riwayat keluarganya yang dibunuh Nazi dan mengganti nama Yahudinya Alan Stine menjadi Peter Stone. Jon Avnet yang sejak semula menitik beratkan isu Three Christ pada hubungan manusiawi dokter dan pasiennya menyelibkan interaksi emosional diantara mereka.

Dr Orbus kepala Rumah Sakit yang tidak memahami esensi penelitian dr. Stone mengambil alih penilitian. Untuk mendapatkan populeritas dikalangan ilmuwan dan keinginan mencantumkan dirinya dalam jurnal namun justru mengakibatkan bunuh dirinya Clyide. Dr Orbus tidak memahami perkataan Clyde yang simbolik sebetulnya ucapan selamat tinggal untuk bunuh diri. Peristiwa ini menjadi ending film. Dr Stone dipindahkan kekota lain oleh Majelis Etika namun diperbolehkan meneruskan penelitiannya dan mengajak 2 obyek penelitiannya. Dr Orbus tidak mendapat sanksi karena mendekati pensiun.

Film ini didominasi oleh acting Richard Gere, Peter Dinklage, Walton Golgin, Bradley Withford dan Charllote Hope. Sebagai film Three Christs mencoba menjadi film yang lebih dalam dari One Flew Over The Cuckoo‘s Nest ( sutradara Milos Forman 1975 ) walaupun tidak mampu mengalir sebaik film yang dibintangi Jack Nicholson itu. Namun membuat sebuah film berdasarkan adaptasi dari sebuah buku non fiksi dari studi kasus psikriati adalah hal yang luar biasa. Mengesampingkan gagapnya film ini kalimat kalimat dalam film ini menyentak pemikiran kita. Ketua Majelis Etika yang mengadili dr. Peter Stone berkata atas dasar kesalahan ucapan dr. Stone menyebut penelitiannya sebagai kasus 4 Kristus. Pimpinan Majelis Etika menyebut kasus ini memang kasus 4 Kristus bukan kasus 3 Kristus.

Sebagai olok-olok Majelis Etika menyebut Kristus ke 4 dr. Stone sendiri yang mengalami delusi bersikap sebagai Tuhan yang menganggap dirinya mampu menyembuhkan obyek penelitiannya. Three Christs sebuah dark comedy tentang seorang Atheis yang beracting sebagai Tuhan menganggap mampu menyembuhkan mereka yang menganggap dirinya Tuhan ( sayang Sang Sutradara menangkap pesannya dari esensi lain ).

Dalam bukunya dr Milton Rokeach menulis juga bahwa dirinya telah tersembuhkan dari delusi sebagai Tuhan yang menganggap mampu menyembuhkan ke 3 pasiennya keluar dari hal yang diyakininya. 20 tahun setelah penerbitan pertamanya tahun 1964 buku The Three Crhrist of Ypsilanti diterbitka n kembali tahun 1984 dan kemudian diterbitkan kembali tahun 2011. Dr Milton Rokeach meyakini bahwa penilitannya sangat manipulatif dan tidak etis dan menulis permintaan maaf sebagai penutup bukunya“ Saya benar benar tidak berhak bahkan atas nama sains untuk berperan sebagai Tuhan dan mengganggu kehidupan sehari hari mereka “.

Sikap dr Milton Rokeach sangat fenomenal dilain fihak penilitiannya yang dinggap radikal saat itu sesungguhnya sebuah langkah revolusioner yang menjadi dasar terapi modern saat ini dilain sisi rasa bersalah yang menghinggapi dr. Milton bisa jadi juga sebuah delusi. Skizofrenia dipicu beberapa faktor dari stress yang sangat menekan, situasi emosional yang intens dan menetap, traumatik dan paparan agama. Agama sering menjadi tempat bersembunyi mereka yang lari dari realita menjadi episode psikotik membuat mereka merasa sebagai Yang Terpilih atau Yang Dipilih
menjadi martir atau mesias.

Bisa jadi lahirnya Nabi palsu, Mesias palsu adalah kecenderungan Skizofrenia. Masalahnya adalah apabila si pengidap Skizofrenia memiliki kemampuan luar biasa dia menjadi pangkal semua kekacauan. Three Christs film yang banyak melahirkan perbedaan pendapat diantara penulis resensi namun penulis salah satu yang menganggap film ini patut ditonton.***

HEMARAWAN RIANTO, GAMBARIDOEP.COM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here