Beranda EVENT FRANKENSTEIN, INTERVIEW WITH THE VAMPIRE, SUICIDE CLUB dan THREE CHRISTS (BAGIAN...

FRANKENSTEIN, INTERVIEW WITH THE VAMPIRE, SUICIDE CLUB dan THREE CHRISTS (BAGIAN 2)

0

Film tentang menyongsong kematian dan bunuh diri.

GAMBARIDOEP.COM – Suicide Club adalah sebuah film Jepang dan manga disutradarai dan karya Sion Sono di rilis tahun 2002. Budaya bunuh diri di Jepang memiliki sejarah panjang. Bunuh diri yang terkait dengan tradisi dikenal sebagai Seppuku. Kebiasaan para Samurai mempertahankan Kehormatannya dengan merobek perut dan kemudian dipenggal kepalanya.

Namun bunuh diri sudah terlanjur menjadi bagian dari tata sosial masyarakat Jepang. Hutan Aokigahara misalnya terkenal diseluruh dunia sebagai lokasi favorit untuk bunuh diri. Menurut catatan tahun 1988 sekurang kurangnya terjadi 100 peristiwa bunuh diri di Aokigahara.

Siswa-siswi sekolah siap meloncat dari gedung dalam Suicide Club/ist

Aokigahara menempati urutan no. 2 lokasi paling favorit di Dunia setelah jembatan Golden Gate San Fransisco. Menurut data WHO Jepang adalah satu dari sepuluh negara yang paling banyak memiliki pelaku bunuh diri. Angka kematian akibat bunuh diri di Jepang selama bulan Oktober 2020 lebih tinggi dari jumlah kematian akibat pandemi Covid 19.

Seperti dilansir CNN dari data statistik Pemerintah Jepang : angka kematian akibat bunuh diri selama bulan Oktober 2020 sebanyak 2.153 orang sedang kematian akibat Covid 19 sebanyak 2.087 orang. Bunuh diri sudah menjadi bagian dari moralitas bangsa Jepang. Suicide Club mendapat banyak tanggapan positif dan acungan jempol di semua festival film di Dunia karena muatannya yang kontoversil dan transgresif serta original.

Suicide Club juga memenangkan hadiah juri sebagai “ The Most Ground Breaking Film “ di Fantasia Film Festival 2003. Namun memahami Suicide Club harus memahami situasi kejiwaan generasi baru Jepang.

Opening Suicide Club sebelum adegan bunuh diri masal./ist

Opening film yang mengejutkan berupa bunuh diri masal siswa sekolah dengan wajah wajah riang bersama sama melemparkan diri didepan Kereta Api yang melaju disebuah stasiun yang ramai sungguh sebuah adegan yang membuat shock. Seperti kita shock ketika mengetahui alasan alasan seseorang bunuh diri yang tentunya tidak terlintas dalam logika kita.

Suicide Club adalah cerita mengenai histeria masal gelombang bunuh diri yang bermula di Tokyo kemudian melanda seluruh Jepang. Polisi berusaha mengindentifikasi kematian kematian ini sebagai bunuh diri ataukah pembunuhan. Badai bunuh diri terus berlangsung yang dilakukan oleh mereka yang tidak punya masalah, berwajah riang dan impulsif.

Diketahui kemudian dorongan datang dari sebuah situs internet yang manipulatif dan kultus terhadap band pop yang terus menerus menyanyikan lagu “ Mail Me “. Sebuah grup Rock Glam Rockyang dipimpin seseorang yang menamai dirinya Genesis juga ikut dalam kekacauan ini melakukan ritual sadisme.

Genesis dan grupnya digambarkan sebagai sekelompok pemuda yang kehilangan orientasi identitas dan mengalami delusi keagungan. Diluar adegan sadisme yang fantastis dalam film ini pesan film ini ada pada dialog seorang penelepon gelap kepada Kuroda salah satu detektif yang menyelidiki kasus ini yang kemudian juga bunuh diri.

Pertanyaan dan pernyataan penelepon gelap itu sangat menghipnotis disampaikan pada saat Kuroda shock karena kematian keluarganya. Namun yang terpenting adalah pertanyaan yang terus diulang kepada Kuroda : “ Apakah kamu terjalin dengan dirimu? “.

Pertanyaan ini menyembunyikan pertanyaan sesungguhnya : apakah kamu memahami dirimu ? apakah kamu memahami kehidupanmu ? apakah kamu tahu apa yang menjadi tujuan hidupmu /apakah kamu bangga terhadap dirimu ? apakah kamu bersyukur atas kesempatan hidupmu ?

Adegan dalam Suicide Club/ist
Salah satu adegan dalam Suicide Club

 

Adegan bunuh diri lain dalam Suicide Club/ist

Suicide Club menggambarkan sebuah generasi tanpa masalah, tanpa rencana, tanpa motivasi yang impulsif dan histerical. Karena itu mudah dimanipulasi dan memanipulasi dirinya untuk sesuatu yang tiba tiba ditemukan yang dianggap berharga. Apakah kalian pernah mengalami sebuah kondisi dimana otak kosong tanpa beban tanpa rencana dan secara impulsif dipengaruhi histeria kelompok melakukan sesuatu ? itulah pesan terpenting film ini.

Diluar pameran adegan sadisme ( yag terus terang beberapa diantaranya sangat orisinal dan teatrikal ) ini adalah film psikologi generasi pop dimana ada kematian/ bunuh diri yang bersumber justru pada kondisi mutlak tidak ada masalah dari generasi yang menganggap dirinya tidak ( menginginkan )ada persoalan dengan dunia sekitar.

Kiri kekanan : Leon ( Walton Goggins ), dr. Peter Stone ( Richard Gere ), Clide ( Bradley Withford ) didepan : Joseph ( Peter Dinklage )/ist

Film ini ditutup dengan lagu “ Live as You Please “. Three Christs disutradarai oleh Jon Avnet dirilis pada tahun 2017 ( mohon membaca Three Christs telah diulas di GambarIdoep sebelumnya ). Tentang seorang psikiater yang membuat penelitian dan pencarian terapi baru untuk penderita Skizofrenia. Dr. Peter Stone tertarik mengumpulkan 3 orang yang menganggap dirinya Kristus dalam sebuah interaksi. Dua orang pasien Skizofrenia mengalami perubahan namun satu pasien Joseph tanpa diketahui tetap hidup dalam delusi keagungan sebagai Kristus. Figur imajiner itu muncul ketika Joseph dilanda ketakutan, kemarahan dan ancaman sekaligus keyakinan tidak mampu melawan.

Dalam kondisi tertekan pada saat bicara dengan direktur rumah sakit yang dianggap sebagai sumber rasa sakit ( teori pengobatan sakit jiwa tahun 1950 diantaranya lobotomi dan kejut listrik ) Joseph melawan dengan mengorbankan diri. Bunuh diri meloncat dari menara sebagai penebusan dosa bagi musuhnya, sumber ancamannya ( direktur rumah sakit jiwa ).

Joseph dari Three Christs bunuh diri, pengorbanan dirinya untuk penebusan dosa sosok yang ia benci/ist

Ketidak berdayaan ia manipulasi dengan mengambil kisah Jesus pengorbanan dan kematiannya sebagai penebusan dosa untuk umat manusia. Empat film diatas dengan mengesampingkan kemasan ceritanya sesungguhnya dibangun atas kasus gangguan Kesehatan Jiwa.

Badan Kesehatan Dunia ( WHO ) mencatat setidaknya 300 juta jiwa diseluruh Dunia mengidap depresi dan 50 juta lainnya mengalami demensia. Mengutip Reuters sekitar 23 juta orang mengidap Skizofrenia dan sekitar 60 juta orang mengalami gangguan Bipolar. Dari situs resmi WHO disebutkan bahwa gangguan jiwa dimulai dari usia 14 tahun karena itu gangguan kesehatan jiwa bukan hanya memapar orang dewasa namun juga dialami oleh generasi milenial. Pada generasi milenial bunuh diri jadi penyebab kedua kematian diantara usia 15 – 29 tahun dan depresi menempati urutan ketiga penyebab kasus.

Gangguan kesehatan jiwa yang mendorong terjadinya bunuh diri hari ini mengalami evolusi. Awalnya dikaitkan dengan situasi depresi, bipolar, skizofrenia dari penyebab kecanduan alkohol, narkotika bahkan kemiskinan, kemarahan, kecemasan, pelecehan, waham dan sekte sesat. Di India data tahun1997 mengatakan 200.000 orang bunuh diri karena tekanan hutang. Di Cina potensi bunuh diri terjadi di pedesaan pinggiran kota karena kemiskinan. Di pinggiran Jogja dulu ada desa yang bernama Gantungan (nGantungan ) karena banyaknya kasus gantung diri di desa itu akibat kemiskinan dan fatalisme.

Mereka yang beragama Islam menurut data pada awalnya memiliki statistik paling rendah dalam jumlah bunuh diri namun saat ini berbagai faktor baru memberikan pengaruh buruk menjadi semacam legalitas untuk bunuh diri dengan kemasan Jihad. Suicide Club bukan film fantasi namun berangkat dari gejala yang kini melanda bukan hanya generasi milenial namun seluruh penduduk Dunia.

Pencarian topik bunuh diri lewat internet menghasilkan 10 – 30 % laman web langsung atau tidak langsung berisi dorongan, fasiilitasi dan manipulasi untuk upaya bunuh diri bahkan atas dasar agama dalam berbagai metode dan alasan. Belakangan ini dunia diramaikan oleh bom bunuh diri dimana keinginan untuk menyongsong kematian dieksploitasi untuk aktifitas terorisme.

Paham bahwa seseorang adalah utusan Tuhan berkembang menjadi ancaman yang berbahaya bagi keselamatan jiwa semua orang. Bahwa keinginan terhadap kematian kemudian dikembangkan dan dimanipulasi dari waham nihilistik, kemarahan atau keputusasaan oleh terorism merupakan kejahatan bagi kemanusiaan.

Kematian Vampire dalam Interview With The Vampire/ist
Lestat dalam Interview With The Vampire, yg menderita dalam kesendirian namun keabadian menghalangi kematian./ist

Film yang baik sesungguhnya mampu membawa pencerahan. Frankenstein, Interview with The Vampire, Suicide Club dan Three Christs empat dari banyak film lain yang memberikan muatan itu dalam berbagai versi kemasan. (TAMAT)

HERMAWAN RIANTO, GAMBARIDEOEP.COM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here