Beranda EVENT Hari Film Nasional 2021 dan Sejarah awal Industri Film Indonesia

Hari Film Nasional 2021 dan Sejarah awal Industri Film Indonesia

0
Bapak Perfilman Indonesia Usmar Ismail on set/IST
GAMBARIDOEP.COM –  Tumbuh pesatnya industri Film di Hindia Belanda dimulai semenjak munculnya politik penanaman modal asing pada 1870, dan semakin besar semenjak diberlakukannya Politik Etis di awal abad ke-20 oleh pemerintah Belanda. Sebuah sistem politik yang membukakan banyak pintu kesempatan baru bagi kaum Pribumi, termasuk didalamnya kesempatan untuk menikmati hiburan Film di bioskop-bioskop yang tersebar di berbagai daerah .
Diawal abad ke-20, media film juga menemukan bentuk nya dan industri Genre Film cerita dimulai di Amerika Serikat pada tahun 1903, di prakarsai oleh Edwin S Portier yang membuat film cerita “The Great Train Robbery.” Karena panjangnya durasi film yang memakan waktu 3 jam, diperlukanlah satu tempat khusus bagi orang untuk menonton film. Tempat inilah yang kemudian dibangun dan dinamakan dengan Cinema Theatre.
Sebagai cikal bakal industri Bioskop dan Film yang telah kita kenal sekarang. Semenjak itu trend Industri Film tumbuh dengan sangat fenomenal di dunia, terutama di Amerika. Persaingan yang ketat dari ribuan judul film yang diproduksi tiap tahun nya menyebabkan biaya karcis yang dibebankan kepada penonton di Amerika pada saat itu amatlah murah. Jadilah penonton aktif nya adalah kelas ekonomi rendah dan anak muda. Mempengaruhi sebagian besar gaya bercerita film-film Amerika yang sarat akan aksi kekerasan dan adegan vulgar pada massanya.
Kamera yang umumnya digunakan pada produksi-produksi awal film Indonesia /doc-IST
Di Hindia Belanda (Indonesia), keadaan industri film dan Bioskop nya amatlah berbeda dengan keadaan di Amerika Serikat. Perbedaan terletak dari segi penonton. Pemutaran Film di Hindia Belanda bukanlah diperuntukkan bagi mereka yang berekonomi rendah atau kaum muda saja.
Namun sangat tergantung pada pembagian golongan dalam masyarakat yang sesuai dengan hukum pembagian penduduk. Ada bioskop yang hanya bisa ditonton oleh penduduk Eropa saja. Ada juga bioskop yang memutar film dengan pengaturan kursi penonton yang membedakan antara Pribumi dan Eropa.
Kemudian ada bioskop yang mengadakan perbedaan letak tempat penonton pria dengan wanita. Dan pula ada bioskop yang di gunakan sebagai sarana lobi-lobi dan prestise para pedagang besar Tionghoa terhadap pejabat-pejabat kolonial pada saat itu.
Melihat peluang tumbuh nya peluang pasar baru dan karena sifat medianya yang mudah digandakan dan dipertunjukan di ruangan terbuka, popularitas Genre Film Cerita ini juga diperkenalkan dengan sangat masif oleh pengusaha-pengusaha film lokal hingga ke desa-desa di Hindia Belanda semenjak diberlakukannya politik etis. Dimana penduduk-penduduk Pribumi pada saat itu sudah memiliki kebutuhan yang tinggi akan tempat hiburan malam yang terlepas dari kaidah tradisional.
Terbukti dari kutipan Harian “De Locomotive” pada 1926 yang mengatakan:
….Wist U wel, dat ongeveer 80 pct van de inkomsten uit het Bioscoopbedrijf komen uit de zakken van de Inlandsche en Chineese bevolking…..tahukah anda, hampir 80 persen, dari keseluruhan penonton bioskop Adalah orang Cina dan Pribumi..
Tumbuh nya trend penonton yang semakin banyak tersebut membuat pemerintah Belanda mengeluarkan dua kebijakan:
Pertama, menyokong pembuatan film di Hindia Belanda. Mendorong pembuatan film yang memakai Pribumi sebagai pemain dengan tema cerita yang sama dengan film-film impor. Kedua, pemerintah colonial mengeluarkan peraturan perfilman dan usaha gedung bioskop yang ketat di Hindia Belanda.
Kedua, peraturan tersebut dimaksudkan untuk menetralkan citra negative orang-orang Eropa yang di dapat penonton Pribumi dari film-film impor Amerika yang pada saat itu membanjiri Hindia Belanda.
Akibatnya, bioskop-bioskop kelas bawah yang umumnya milik orang Tionghoa mengalami guncangan berat akibat kekurangan suplai film. Ditambah lagi dengan masuk nya era “The Great Depresion” yang mempengaruhi kondisi ekonomi dunia, keadaan industri bioskop di Hindia Belanda semakin memprihatinkan. Bioskop-bioskop kekurangan film dan terancam gulung tikar.
Namun jumlah penonton bioskop yang sangat besar dari kalangan Pribumi dan Tionghoa di Hindia Belanda menyelamatkan industri baru yang berada di ujung tanduk tersebut.
Berawal dari kritik jurnalis asal Belanda, Albert Balink, di Koran De-Locomotive akan tertinggal nya Hindia Belanda dari Burma pada trend industri Film yang semakin populer di dunia. Hal ini menggugah L.Heuveldorp, seorang sutradara asal Belanda, untuk mendirikan perusahaan Java Film Coy bersama G.Kruegers, seorang adik mantu dari raja bioskop Bandung Buse – untuk memproduksi film cerita bisu pertama di Indonesia:
“Lutung Kasarung” (1926). Film yang di produksi di Bandung ini, menjadi film pertama dan sebagai pelopor muncul nya warna film lokal dan trend pembuatan film di Hindia Belanda.
Setahun kemudian Java Film Coy memproduksi “Euis Atjih” (1927), film cerita bisu ber-Genre drama rumah tangga yang sempat populer hingga Singapura. Menurut Misbach Yusa Biran (sejarawan film Indonesia), kata “Indonesia” sudah digunakan pada film ini. Saat diputar di bioskop Orient Surabaya 8-12 September 1927, promosi iklannya menuliskan:
“Ini film Indonesia baroe terbit sekarang, FILM KEMADJOEAN
keliling INSULINDE, telah tersohorlah namanya.”
“Liat bagaimana bangsa Indonesia tjoekoep pinter maen dalem filem,
tidak koerang dari laen mathem fukm Eropa atawa Amerika.”
Sebuah iklan yang sangat menarik mengingat baru setahun setelahnya (1928), Sumpah Pemuda menggunakan kata Indonesia.
Selain sebagai alat publikasi — para pembuat film zaman itu sebagian besar melayani kebutuhan dokumentasi jawatan kolonial seperti hal nya para pelukis Mooi Indie. Namun ada dua kultur tontonan yang sudah mengakar di kalangan masyarakat Pribumi dan kelas ekonomi rendah pada masa itu; yaitu pengaruh tonil dan pengaruh film-film impor Amerika yang berisikan aksi laga. Kedua model tontonan tersebut mempengaruhi produksi film di Hindia Belanda. Apalagi semenjak masuknya para pedagang dalam usaha industri film – membawa implikasi orientasi hiburan semata dalam menarik para penonton. Mereka adalah para peranakan Tionghoa seperti Tan Boen Soan, Wong Brothers, dan The Teng Chun yang berkiprah di Batavia.
Dapat dilihat dari beberapa produksi film seperti; Njai Dasima (1929) karya Lie Tek Swie, yang cukup booming. Si Ronda (1930) dan Melati van Agam (1930) yang mengambil cerita-cerita panggung tonil untuk merebut para penonton Toneel Melajoe.
Bahkan film Njai Dasima, menggunakan aktor Padangsche Opera bernama Nancy. Film-film seperti Si Tjonat (1929), Rampok Preanger (1929), Si Pitoeng (1931), mendapatkan antusias penonton kelas bawah karena adegan-adegan aksi laga yang meniru film-film action Amerika. Dan juga film-film aksi laga yang terinspirasi dari film kungfu Tiongkok, seperti karya The Teng Chun, Pat Kiam Hap (Delapan Jago Pedang, 1933), dan Ouw Peh Tjoa (Dua Siluman Ular Putih dan Hitam, 1934) .
Hal ini kembali menimbulkan kegelisahan bagi para wartawan yang banyak mempengaruhi perkembangan industri film di Bandung. Balink yang tadinya hanya menuliskan kegelisahan-kegelisahan nya lewat media koran, akhirnya memutuskan untuk terjun langsung ke dalam produksi film local di Bandung.
Bersama Wong Brothers, Balink menggarap sebuah film yang amat ambisius “Pareh” (1934), dan menciptakan pasangan aktor dan aktris profesional pertama di Indonesia. Menampilkan pasangan Raden Mochtar dan R. Sukarsih. Film tersebut dianggap sebagai film etnologis paling penting, dan berpengaruh di Hindia Belanda pada masa nya.
Pembuatan Pareh bisa dianggap sebagai usaha memutus semangat produksi film komersil di kalangan peranakan Tionghoa, yang selalu menampilkan segi picisan dan aksi laga. Latar kewartawanan Balink tentu sangat membantu dalam membaca perkembangan estetika film dunia.
Meskipun film “Pareh” dianggap sebagai film bermutu tinggi dan mendapatkan legitimasinya dari penonton intelektual di Eropa, namun film tersebut membuat Java Pasific Film bangkrut karena besar nya modal yang digunakan berbanding terbalik dengan animo penonton pada saat itu.
Setelah kejatuhan Java Pasific Film, Balink dan Wong Brothers mendirikan lagi “ANIF” (Algemen Nederlandsch Indie Film) dengan bantuan modal bank dan perusahaan-perusahaan besar Belanda.
Melalui ANIF, Albert Balink bersama Wong Brothers mampu menebusnya dengan film “Terang Boelan” (1937) yang sukses luar biasa hingga mendatangkan keuntungan yang melimpah ruah. Akibatnya nasib Wong Bersaudara yang terancam bangkrut jadi tertolong.
Poster Film Terang Bulan/IST
Terang Bulan bukan saja amat laku di Indonesia, tapi juga menguntungkan fihak RKO Radio Pictures yang mengedarkannya untuk semenanjung Malaka.
Kesuksesan komersil film Terang Boelan tidak terlepas dari seorang jurnalis bernama Saeroen, seorang wartawan dari surat kabar “Pemandangan” yang memiliki hubungan erat pada komunitas sandiwara, yang diajak serta sebagai penulis scenario di film Terang Boelan.
Sesudah itu munculah era “panen” perusahaan dan produksi yang pertama dalam sejarah film Indonesia. Kesuksesan Terang Boelan membuat peningkatan dalam produksi film di Hindia Belanda serta standard baru dalam industri film Indonesia; di kemudian hari banyak film yang mengikuti rumus sukses yang sama, termasuk musik, pengambilan gambar yang indah dan romantis.
Namun apa daya, bahkan setelah kesuksesan film Terang Beoelan para pemilik saham hanya menginginkan ANIF membuat film dokumenter saja pada akhirnya, dengan alasan karya-karya non-fiksi dari manajemen ANIF disukai sebagai media yang lebih intelektual. Kecewa dengan reaksi perusahaan tersebut, Balink meninggalkan Hindia Belanda dan berimigrasi ke Amerika Serikat pada bulan Maret 1938.
Semenjak itu mengalirlah tenaga-tenaga pribumi yang berlatar belakang wartawan dan penggiat sandiwara seperti Andjar Asmara, Arifin, Suska, dan Inu Perbatasari. Mereka berperan penting dalam produksi-produksi film lokal berikut nya, dan turut serta memberikan bentuk pada industri film dengan warna lokal di Hindia Belanda. Terlihat pada judul-judul: Nusa Penida, Panggilan Darah, Djantung Hati, dan Asmara Murni.
Masa penjajahan Jepang menjadi Benchmark era baru bagi industri film Indonesia. Terlepas dari represi yang membatasi kebebasan berekspresi para pembuat film lokal, media film akhirnya disadari sebagai alat komunikasi serta propaganda yang kuat. Dihapuskannya corak komersialisme, dan terutama corak amerikanisme dengan lebih mengedepankan budaya lokal dan kesadaran perasaan kebangsaan. Pada masa ini juga aset-aset perusahaan film ANIF diambil alih oleh pihak Jepang dan beralih nama menjadi Nippon ii Eiga Sha yang khusus memproduksi film-film propaganda Jepang.
Pasca kemerdekaan Nippon ii Eiga Sha sempat berubah menjadi Berita Film Indonesia (BFI), sebelum berubah menjadi NV Multi Film dan South Pasific Film Co dimana Usmar Ismail menyutradarai film pertama nya berjudul “Harta Karun” dan melakukan eksplorasi Mise-en-Scene awal yang nanti nya akan berperan besar dalam membentuk ciri Auteur dari film-film Usmar Ismail kedepannya.
100 tahun berlalu sudah semenjak kelahiran Usmar Ismail. Namun visi nya akan konsep Auteurship yang visioner dan mendahului kelompok New Wave yang memicu La Nouvelle
Vague dan memicu gelombang film baru di Perancis, dan bagaimana seharus nya industri film di Indonesia dibentuk, masih menjadi inspirasi bagi generasi per-Filman Indonesia hingga kini.
Selamat hari Film nasional ke-71.

Edo Amurwabhumi | GAMBARIDOEP.COM (GIC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here