Beranda EVENT Film Heir to an Execution, Hukuman Mati yang Dipertanyakan Sartre Hingga Dylan

Film Heir to an Execution, Hukuman Mati yang Dipertanyakan Sartre Hingga Dylan

0

GAMBARIDOEP.COM – Bulan ini 70 tahun yang lalu Julius dan Ethel Rosenbergs dijatuhi hukuman mati atas tuduhan spionase di Pengadilan Distrik AS atau Distrik Selatan New York. Julius dan Ethel Rosenberg adalah orang sipil pertama yang dijatuhi hukuman setelah era Perang Dunia II yang terkait dengan isu keamanan dan kerahasiaan pertahanan Negara.

Kejatuhan Jerman dan perlombaan penguasaan negara taklukan oleh Amerika Serikat ( dan Sekutu ) melawan Uni Sovyet ( dan Polandia ) memecah Jerman menjadi dua bagian. Namun yang lebih penting lagi AS/Sekutu dan Uni Sovyet berlomba berebut para genius yang dulu di kumpulkan oleh Nazi Jerman bagi kepentingan teknologi perang.

Walaupun Uni Sovyet merupakan sekutu kekuatan Barat setelah peristiwa Pearl Harbour namun baik Amerika Serikat maupun Uni Sovyet tidak saling membagi temuan mereka. Bahkan tidak saling meminta tolong untuk menjaga kerahasiaan. Proyek Manhattan adalah proyek riset dan pengembangan senjata nuklir pertama selama PD II dibantu oleh Inggris dan Kanada namun dengan mengabaikan Uni Sovyet.

Jauh sebelum proyek ini direalisasi sesungguhnya Presiden Roosevelt telah diperingatkan oleh Einstein atas bocoran 3 ilmuwan pelarian Yahudi bahayanya pengembangan program Nuklir ini menuju lahirnya alat pembunuh masal yang mengerikan dalam sebuah surat bertanggal 2 Agustus 1939.

Pada 6 Agustus 1945 “ Little Boy “ Bom Atom / Nuklir pertama dengan sistem pemicu berhasil dijatuhkan di Hiroshima. Disusul Fatman Bom Atom / Nuklir kedua dijatuhkan di Nagasaki 3 hari setelah itu dengan sistem berbeda. Sukses 2 Bom ini merubah peta kekuatan Dunia. Ini mengakibatkan perubahan drastis persepsi tentang perang. Amerika Serikat mulai memperlihatkan superioritasnya diatas Uni Sovyet.

Namun 4 tahun kemudian Uni Sovyet berhasil mengembangkan bom nuklir mereka sendiri yang diberi sandi “ Joey 1 “ pada 29 Agustus 1949. Amerika Serikat mencurigai kemampuan kecepatan Uni Sovyet mengejar ketertinggalan teknologinya hanya dalam waktu relatif singkat. Dari sinilah kasus Jullius dan Ethel Rosenbergs bermula dan paranoia Amerika Serikat tentang pencurian rahasia teknologi perang mereka ditambah kebencian terhadap Komunisme.

Heir to an Execution : a granddaughters` story begitu judul lengkapnya. Film Dokumenter yang disutradarai Ivy Meeropol diproduksi HBO tahun 2004 dan saat ini tayang di Channel HBO Signature. Ivy Meeropol adalah Sutradara dan Produser film Dokumenter untuk Film dan Televisi. Ivy adalah anak dari Michael Meeropol dan Ann Karus Meeropol, cucu Jullius dan Ethel Rosenbergs.

Film Heir to an Execution : a granddaughters Story adalah sebuah upaya menggali dan mengeksplorasi kembali kasus persidangan dan vonis yang dianggap sebuah kesalahan. Sebuah Film yang jujur dan berani bukan sebagai sebuah pembangkangan tetapi upaya mempertanyakan kebenaran dan tentang “ apa yang sesungguhnya terjadi “.

Ini adalah sebuah film Dokumenter tentang mereka yang menjadi ikon politik dianggap sebagai pahlawan oleh sebagaian orang dan dicap penghianat oleh sebagian lainnya. Ivy Meeropol Sutradara sekaligus pewawancara dalam film Dokumenter ini menjejaki kehancuran keluarganya dan misteri kasus kakek nenek mereka dengan sebuah keyakinan bahwa ada sesuatu yang harus dilacak.

Jullius dan Ethel Rosenbergs dituduh telah membocorkan rahasia Bom Nuklir ( Bom Atom versi Fatman ) kepada Uni Sovyet. David Greengglass saudara laki laki Ethel Rosenbergs saksi utama kasus ini yang kesaksiannya menghancurkan Jullius dan Ethel. Kemudian David membuat pengakuan baru yang mencabut pengakuan lamanya dan mengaku telah bersumpah palsu. Namun menurut FBI mereka punya banyak sumber bukti yang memberatkan. Jullius dan Ehel Rosenbergs dieksekusi dengan kursi listrik.

Keluarga Rosenbergs hancur rasa takut keluarga besar yang terus di bayang bayangi FBI menjadi semacam paranoia sehingga ada yang mengganti nama keluarga hingga bersikap tidak ingin berurusan dengan keluarga inti Jullius dan Ethel. Film Dokumenter ini berbasiskan isu utamanya tentang spionase namun digarap lebih kepada sebuah kepedihan keluarga yang hancur karena tuduhan dan vonis keliru yang telah dijatuhkan kepada Jullius dan Ethel. Ivy Meeropol mendatangi dan mewawancarai kerabat dan rekan kerja kakek dan neneknya untuk menjejaki riwayat hukum Kakek neneknya. Tidak semua kerabat bisa dihubungi walaupun ada yang menyesali bahwa orang tua mereka tidak berperan aktif menyelamatkan nasib anak anak Jullius dan Ethel saat itu.

Namun mantan rekan kerja dan orang orang yang dekat dengan peristiwa saat itu meyakinkan Ivy Meeropol bahwa kakek dan Neneknya tidak bersalah. Kesalahan mereka adalah bungkam. Keputusan ini menjadi pertanyaan Ivy Meeropol dan semua pemerhati kasus ini mengapa Jullius dan Ethel tidak memilih jalan yang lebih mudah atau Jullius meringankan tuduhan kepada istrinya atau Ethel membuat sedikit saja pengakuan demi anak anak mereka.

Sebaliknya Jullius dan Ethel degan tegar justru menyongsong kursi listrik dan tega meninggalkan dua anak lelakinya dalam kondisi yatim piatu tidak ada kerabat yang berani mengadopsi. Setelah melalui sekian peristiwa nenek mereka mendapat hak adopsi dari seorang Hakim yang baik hati. Sampai detik terahir saat Ethel hendak dieksekusi

seorang Rabi Yahudi yang terus mendampingi mereka membujuk Ethel untuk memberi sebuah kesaksian apa saja agar dua anaknya tidak menjadi yatim piatu namun Ethel tidak bergeming. Jullius dan Ethel Rosenbergs di hukum mati tahun 1953 di kursi listrik di fasilitas hukuman komplek penjara Sing Sing, Ossining New York.

Kematian mereka disambut isak tangis masyarakat pendukung yang meyakini mereka tidak bersalah. Kelompok terpidana lain David Greenglas saudara laki laki Ethel, Harry Gold, Morton Sobell dan Klaus Fuchs dijatuhi hukuman penjara.

Film ini ditutup dengan adegan dimana Ivy Meeropol berhasil menemukan nisan kakek neneknya dikomplek pemakaman menjawab opening film Dokumenter ini dimana Ivy Meeropol mencari cari nisan kakek neneknya dan tampak dipersulit oleh pengelola kompleks pekuburan.

Kematian Jullius dan Ethel di kursi listrik saat itu mendapat sekian tanggapan yang rata rata berupa pertanyaan yang sama dengan yang ada di benak Ivy Meeropol. Mengapa Jullius dan Ethel menghukum dirinya sendiri ? mengapa membiarkan anak anaknya menjadi yatim piatu ? mengapa tidak menggunakan beberapa celah yang bisa menyelamatkan salah satu dari mereka ? Apa yang lebih bernilai dari itu semua ? Apa yang mereka selamatkan/lindungi ?. Berbeda dengan beberapa mata mata lain yang mempunyai alasan dari uang hingga ideologi naif Klaus Fuch. Saat Fuch tertangkap ia menyampaikan dengan panjang lebar bahwa ia berhutang informasi kepada Uni Sovyet tentang Bom Nuklir.

Karena agar Dunia memiliki penyeimbang sebaiknya ada negara lain yang memiliki kemampuan membuat Bom Nuklir bukan hanya Amerika Serikat. Mata mata lain memiliki pertimbangan mirip. Menurutnya dunia akan lebih aman kalau ada negara lain yang juga memiliki kemampuan membuat Bom Atom.

Namun kembali kepada Jullius dan Ethel tidak ada satu alasan pribadipun yang bisa dipelajari dari mereka. Selain bahwa pada saat mereka muda mereka tergabung sebagai anggota Partai Komunis.

Setelah jatuhnya vonis menunggu pelaksanaan hukuman banyak warga Amerika Serikat tidak mempercayai keterlibatan Jullius dan Ethel atau minimal percaya bahwa kesalahan pasangan Rosenberg tidak sebesar itu terutama Ethel.

Kampanye dimulai untuk mencegah eksekusi melawan gerakan anti semit dan paranoia terhadap komunisme di Amerika Serikat. Di seluruh duna terjadi protes terutama di ibukota kota kota Eropa Barat bahkan Paus Pius XII sendiri berkenan membuat surat permohonan. Namun Presiden Eisenhower mengabaikan protes tersebut atas dukungan opini publik dan media dalam negeri yang pro hukuman mati bagi Rosenberg. Banyak tokoh dan seniman Dunia yang memprotes memohonan grasi tidak kurang a.l : Jean Cocteau, Albert Enstein, Harold Urey hingga seniman sayap kiri Bertolt Brecht, Dassiel Hammet, Frida Kahlo hingga Diego Rivera. Jean Paul Sartre mengungkapkan seluruh proses penjatuhan vonis itu sebagai “ Hukuman Hukuman mati yang mengotori seluruh Bangsa. Dengan membunuh keluarga Rosenberg anda membangun ilmu pengetahuan dengan pengorbanan manusia….seperti perburuan penyihir dst dst “.

Pada Mei 1951 Pablo Piccaso menulis untuk koran berhaluan komunis Perancis L`Humanite “ Jamnya dihitung, menit dihitung jangan biarkan kejahatan terhadap kemanusiaan ini terjadi “. Namun sebesar apapun gerakan protes tidak menghalangi eksekusi kepada Jullius dan Ethel Rosenberg. Tidak kurang 10.000 orang berkerumun untuk memberi ucapan bela sungkawa.

Ivy Meeropol ( sutradara dan produser ) & Michael Meeropol – cucu dan anak Jullius & Ethel Rosenbergs/ist

Jullius dan Ethel Rosenbergs diluar tuduhan kasus spionasenya dan sikap bungkamnya menjadi icon Romeo Yuliet dalam versi yang tidak pernah terpikirkan bagaimana mereka menyongsong kematian bersama dalam bungkam. Jullius dan Ethel dianggap sebagai korban pertama perang dingin, paranoia terhadap komunisme dan superioritas Amerika yang tidak ingin tersaingi.

Sampai hari ini kematian Jullius dan Ethel Rosenbergs di kursi listrik menyisakan pertanyaan yang tak terjawab. Untuk menghormati Jullius dan Ethel, tahun 1983 Bob Dylan membuat lagu dipersembahkan kepada mereka berjudul “ Jullius and Ethel” . Dibawah ini beberapa lirik dari cuplikan lagunya :
Now that they are gone, you know the thruth it can be told They were sacrificial lambs in the market place sold
( refrain )
Jullius and Ethel
Jullius and Ethel
Now that they are gone, you know the thruth it can came out They were never proven guilty beyond a reasonable doubt …………………………..
But they loved each other right up to the time they checked out …………………………..
Every Kingdom got to fall, even the Third Reich
Man can do what he please but not to for as long as he like

Jullius and Erhel
Jullius and Ethel
Well they say they gave the secrets of the atom bomb away Like no one else could think of it, it wouldn`t be here to day Jullius and Ethel
Jullius and Ethel
……………………………..
Ext ext.

Penulis, sejarawan dan pemerhati kasus Rosenbergs berharap satu hari lahir sebuah tulisan yang mampu membuka tabir dan difilmkan dalam sebuah film yang sepadan dengan bobot pesannya. Mengutip The Nation : “Beberapa detektif terbaik saat ini bekerja dalam jurnalisme modern“.***

HERMAWAN RIANTO, gambaridoep.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here