Beranda EVENT TITIAN SERAMBUT DIBELAH TUJUH: Saat Seorang Guru Agama Melawan Kezaliman dengan Manusiawi...

TITIAN SERAMBUT DIBELAH TUJUH: Saat Seorang Guru Agama Melawan Kezaliman dengan Manusiawi dan Rendah Hati

0
Pak Harun (Sukarno M Noor)/ist

GAMBARIDOEP.COM – Titian Serambut Dibelah Tujuh film Indonesia yang diproduksi sudah cukup lama tahun 1982. Disutradarai Chaerul Umam, skenario Asrul Sani dibintangi oleh a.l El Manik, Rachmat Hidayat, Sukarno M Noor, Darusalam, Dewi Irawan, Sultan Saladin, Ida Leman dll.

Titian Serambut dibelah Tujuh adalah satu dari beberapa film Nasional yang terpilih dibiayai oleh Dewan Film Nasional. Penulis menonton film ini tahun 1982 dan kemudian mengulang menonton lagi beberapa kali melalui CD, DVD dan Youtube.

Setelah menonton Titian Serambut Dibelah Tujuh (TSDT) dalam era yang berbeda makin kuat dorongan untuk menulis TSDT. Penulis khawatir untuk waktu yang cukup lama mungkin tidak ada lagi film seperti ini.

TSDT dibuka dengan adegan Ibrahim (El Manik) terseok seok mengayuh sepedanya di jalan desa yang berliku naik turun khas daerah Sumatra Barat menuju kampung Tanjung Berangin. Berbekal sebuah koper dan karung kecil berisi beras di boncengan sepedanya. Ibrahim adalah seorang guru (agama) muda pendatang yang ditugaskan di kampung itu atas permintaan Pak Syamsu Nawawi (Menzano) seorang petugas pemerintah untuk menggantikan Pak Sulaeman (Rahmat Hidayat) seorang guru agama yang sudah uzur dan frustasi.

Ibrahim (El Manik) & Si Orang tua pengembara (Darussalam)/ist

Sifat hipokrit dan munafik Pak Sulaeman karena ketergantungan materi terhadap Pak Harun (Sukarno M Noor) penguasa kampung informal, juragan karet, penjudi besar dan sekian kejahatan lainnya. Pak Sulaiman menutup mata terhadap semua peristiwa yang terjadi di kampung Tanjung Berangin. Kejahatan dan kemaksiatan, sex menyimpang yang dilakukan Pak Harun dan Leha istrinya (Ida Leman), Arsad (Sultan Saladin) keponakannya serta para pengikutnya. Sikap ini mempengaruhi kwalitas dan moralitas Pak Sulaeman sebagai guru dan tokoh agama di kampung Tanjung Berangin.

Pak Sulaeman (Rahmat Hidayat)/ist

Pada sebuah sebuah jalan yang menanjak selagi Ibrahim berhenti untuk membersihkan keringatnya seorang tua pengembara yang sedang beristirahat dipinggir jalan mengucapkan salam. Ibrahim membalas salam dan segera saja ikut beristirahat. Dengan keramahan si orang tua pengembara itu dan sikap santun Ibrahim membuat mereka cepat menjadi akrab. Asrul Sani membuat kalimat indah untuk memberi jejak identitas orang tua pengembara itu. Ketika Ibrahim bertanya apa yang dikerjakan Si orang tua pengembara, ia menjawab : “Saya jalan dari kampung ke kampung, kalau ada ulama besar disana saya belajar kalau tidak ada saya mengajar.“ Ketika tahu bahwa Ibrahim menuju Tanjung Berangin orang tua pengembara itu menampakan wajah kawatir. Ketika mereka berpisah, mendoakan untuk keselamatan Ibrahim dan berkata menyampaikan pesan tersembunyi, bahwa penduduk Tanjung Berangin seperti layang layang putus.

Memasuki desa Tanjung Berangin Ibrahim bertemu Saleh seorang anak yang sedang duduk meniup Sagasaga (semacam Karinding versi Sumatra) dipinggir jalan yang kemudian menjadi akrab dengan Ibrahim. Saleh adalah salah satu murid mengaji Pak Sulaeman yang selalu mendapat hukuman rotan tidak peduli salah atau benar. Saleh memilih untuk kabur dari setiap pengajaran Pak Sulaeman karena tidak tahan rasa sakit hukumannya dan terutama perkataan Pak Sulaeman yang keji terhadap Halimah (Dewi Irawan) kakaknya, yang selalu disebut Pak Sulaeman Iblis. Halimah seorang gadis yang lolos dari percobaan perkosaan Arzad. Berhasil meloloskan diri dari perkosaan Arzad, Halimah difitnah Arzad telah berzina dengan seorang pemuda yang kebetulan ada di lokasi kejadian.

Halimah diperankan Dewi Irawandalam film TITIAN SERAMBUT DIBELAH TUJUH/ist

Dengan pengaruh kekuasaan dan rasa takut kepada Harun pamannya serta didukung pernyataan palsu Pak Sulaeman sebagai tokoh guru dan tokoh agama, fitnah itu dipercaya oleh sebagian besar penduduk kampung. Sebagian lagi yang meragukan tuduhan Arzad karena mereka faham moral bejad Arzad dan sikap munafik Pak Sulaeman memilih diam.

Ibrahim segera akrab dengan Saleh. Bagaimana Ibrahim membangun hubungan emosional dengan Saleh merupakan pengenalan karakter Ibrahim yang berbeda seperti bumi dan langit dengan Pak Sulaeman.

Saleh memperkenalkan Ibrahim gurunya kepada orang tuanya dan terutama kepada Halimah. Keluarga Halimah memiliki harapan besar bahwa guru agama baru ini memiliki ahlak yang sesuai dengan profesinya dan berharap mampu menolong Halimah. Setelah peristiwa percobaan perkosaan, fitnah keji yang terus disebar luaskan, Halimah terganggu jiwanya dan memilih tidak pernah lagi bicara. Ia mengurung diri dikamar ditemani seekor burung Parkit yang ia bawa kemana mana bersama sangkarnya. Disaat depresi begitu menekan Halimah selalu memutar sebuah piringan hitam lagu seriosa yang hanya ia putar bagian pembukanya saja.

Poster Film

Sebuah nyanyian melengking tanpa kata kata yang secara cerdas digunakan Chaerul Umam sebagai simbol rasa marah, teriakan yang tidak mampu dilakukan, histeria dan makin lama berubah menjadi sesuatu yang mengintimidasi penonton.

Ibrahim membawa perubahan besar dalam mengajar mengaji anak anak. Pengajaran tidak lagi dibangun dengan cara menakut takuti dan sanksi fisik namun dengan kehangatan. Yang menjadi gangguan bagi Ibrahim justru sikap

Pak Sulaeman. Sikap hipokrit dan frustasinya sangat kentara sejak perkenalan pertama mereka. Sejak awal Pak Sulaeman memperingatkan agar Ibrahim tidak keluar dari wilayah profesinya dan menjalankan fitrahnya sebagai guru mengaji tidak lebih. Pak Sulaeman mengingatkan kampung Tanjung Berangin adalah wilayah kekuasaan Pak Harun.

Pak Harun adalah seorang kaya yang memiliki alat untuk menakuti penduduk dengan tukang pukulnya dan memiliki kemampuan membeli ulama dan kaki tangannya dengan uangnya.

Scene Pak Harun dengan uang haramnya menyuap tokoh agama digambarkan dengan baik. Pak Harun diantara keriaan kemenangan judinya memberi Pak Sulaeman sebagian uang kemenangan judinya dengan cara merendahkan di warung tuak sebelum menyebarkan sebagin uang haramnya ke kaki tangannya.

Kehidupan sex menyimpang Pak Harun dan Leha (Ida Leman) istrinya digambarkan dengan efektif. Scene Pak Harun bercengkarama dengan asisten sekaligus pasangan homo seksualnya walaupun tidak memperlihatkan simbol-simbol hubungan seksual namun mampu membangun asosiasi dan menciptakan rasa jijik penonton.

Scene Leha memperlihatkan adegan lesbianisme ditampilkan dalam simbol erotis secukupnya namun sangat efektif. Leha yang kesepian jatuh cinta kepada Ibrahim.
Ibrahim mulai memahami kondisi moral warga Tanjung Berangin dan terutama memahami peristiwa yang menimpa Halimah.

Saleh dan Guru Ibrahim/ist

Kebingungannya untuk mengambil sikap ia tuangkan dalam buku harian yang ditampilkan dalam bentuk naratif. Ibrahim dicekam kebimbangan untuk hanya bersikap sebagai guru mengaji, menutup mata terhadap semua kezaliman di Tanjung Berangin atau melakukan sesuatu sebagai orang yang lebih memahami agama dan harus mengamalkannya. Namun Pak Sulaeman selalu menekankan bahwa guru agama itu bukan pemimpin yang memiliki kewajiban diluar mengajar mengaji.

Sementara itu Ibrahim faham Pak Sulaeman menjadi bagian dari keruntuhan moral kampung Tanjung Berangin dengan menutup mata terhadap semua ulah Pak Harun dan kaki tangannya.

Percobaan perkosaan yang kedua terhadap Halimah oleh Arzad dipergoki oleh Ibrahim dan Saleh adik Halimah. Arzad yang terluka diwajahnya karena cakaran Halimah mengumpulkan warga Tanjung Berangin untuk membahas kasusnya dengan fitnah baru. Dengan mengutip usulan Pak Sulaeman, Arzad mendorong warga supaya mereka memutuskan untuk memasung dan mengucilkan Halimah. Ibrahim tidak mampu menghalangi sementara warga yang sebagian besar dipengaruhi Pak Sulaeman lebih percaya kepada usulan Pak Sulaeman ketimbang Ibrahim sebagai saksi mata.

Melalui peristiwa pemasungan hubungan Ibrahim dan Halimah serta Saleh adiknya makin erat. Hal utama yang menghalangi Ibrahim untuk melawan ketidak adilan itu justru sikap bimbang dan sesungguhnya rasa takutnya melawan penguasa Tanjung Berangin.

Arzad yang terkungkung nafsu setan mencoba memperkosa seorang perempuan dari kampung tetangga. Pengepungan dan pengejaran Arzad oleh warga kampung tetangga berahir dengan kematian Arzad.

Setelah penguburan Arzad sekelompok warga kampung yang saleh bersama Ibrahim mengunjungi istri Arzad. Istri Arzad memintakan maaf atas dosa dosa suaminya dan menyerahkan kunci gembok rantai pemasung Halimah. Kunci beralih dari tangan satu ke tangan yang lain dan berahir di tangan Ibrahim.

Sebuah scene tanpa kata bagaimana mereka menunjuk seseorang memikul tanggung jawab karena kapasitas Ibrahim sebagai guru yang dihormati. Ibrahim membuka rantai pasungan Halimah dan membopong Halimah dari pinggir kampung kerumahnya diikuti Saleh dengan sangkar burung ditangannya.

Ibrahim membopong Halimah melewati lorong lorong kampung diikuti sekian maya yang mengintip dari rumah rumah serta warga yang menghentikan kegiatannya untuk menonton . Diantara warga kampung yang menonton tampak Si Orang tua pengembara berdiri dengan mulut tersenyum. Sebuah scene panjang yang dramatis.

Leha istri Pak Harun yang dibakar oleh rasa cemburu tidak mampu menahan hasrat seksualnya terhadap Ibrahim ia mencoba memaksakan kehendaknya kepada Ibrahim di pinggir hutan, memaksakan sex dan mengajak lari bersama dengan menawarkan uang sebagai imbalan. Ibrahim menolak mencoba lari yang membuat baju dibagian punggunya sobek karena cengkeraman Leha.

Penolakan Ibrahim membuat Leha tersinggung dan malu. Leha memfitnah Ibrahim dengan menuduhnya mencoba memperkosa dengan berteriak meminta tolong warga kampung. Pengepungan yang dilakukan oleh orang orang kampung berhasil menangkap Ibrahim yang segera dibawa kedepan Pak Harun dan Leha. Pak Harun siap memenggal kepala Ibrahim namun terhenti dikagetkan oleh teriakan Halimah yang selama ini bisu.

Halimah mencoba membela dan menghalangi namun gagal. Pak Harun siap melaksanakan hukuman lagi namun tampaknya tidak punya cukup nyali untuk melaksanakan dan ia segera mencari Pak Sulaeman untuk mencari dukungan. Pak Sulaeman muncul tampak dipaksa dituntun oleh si orang tua pengembara yang meminta Pak Sulaeman untuk menyelesaikan masalah. Namun dalam sikap munafiknya Pak Sulaeman menjawab bahwa dia bukan pemimpin dan minta tidak dilibatkan.

Si Orang tua pengembara membela Ibrahim dengan pembelaan logis dan mampu membalikan fakta memperlihatkan kepada warga siapa yang sesungguhnya bersalah. Pak Harun, istrinya dan Pak Sulaeman ditinggalkan warga kampung. Kekuasaan Pak Harun seketika itu juga runtuh. Kebenaran telah memupuk keberanian warga Tanjung Berangin untuk melawan kekuasaan Pak Harun dan Pak Sulaeman.

Film ini ditutup dengan 4 scene penting. Pertama Halimah membuka sangkar burung parkitnya membebaskan burung kesayangannya mengecap kebebasan. Pak Sulaeman mengantar Ibrahim berjalan keluar kampung dan membuat pengakuan dan penyesalan atas dosa dosanya. Dalam percakapan itu Pak Sulaeman dan Ibrahim membuat pengakuan ketakutan mereka.

Pak Sulaeman takut akan kemiskinan dan Ibrahim takut akan kematian. Mereka bertemu dengan seorang warga yang meminta Ibrahim tidak meninggalkan Tanjung Berangin namun Ibrahim tampaknya tidak bisa di cegah. Ibrahim berpamitan berjalan menuntun sepedanya keluar kampung, Pak Sulaeman berjalan balik ke kampung sedang warga berdiri bingung ditengahnya. Di pinggir jalan ditempat yang sama ketika Ibrahim pertama bertemu dengan Si Orang tua pengembara ia mendengar ucapan salam yang sama.

Dialog keduanya menutup film ini dengan sangat baik. Ketika Si orang tua pengembara tahu Ibrahim mau meninggalkan kampung Tanjung Berangin ia menyesalkan keputusan Ibrahim dan berkata bahwa Ibrahim baru saja lulus sekolah dengan membebaskan warga Tanjung Berangin dari dosa. Kampung itu membutuhkan Ibrahim.

Ibrahim menjawab bahwa kampung itu membutuhkan seorang pemimpin sedang dia hanya seorang guru agama. Si orang tua pengembara menjawab bahwa setiap muslim adalah pemimpin sesamanya. Sambil mengucapkan salam dan pergi ia berkata kepada Ibrahim tugasnya memang berat tapi itu takdirnya sejak ia ada dalam rahim ibunya. Ibrahim kembali ke sepedanya setelah sejenak ragu ragu ia membalikan sepedanya dan mengayuh kembali ke Tanjung Berangin.

Asrul Sani dan Chaerul Umam duet luar biasa dalam film ini. Simbol simbol yang apabila ditangan sutradara lain menjadi “ kenes “ dalam film ini menjadi sangat alamiah dan realistis. Rahjul Kahfi director artistik mampu menahan diri untuk tidak sibuk menghias sana sini. Beberapa film sering sibuk menciptakan materi baru yang cantik tapi genit sehingga sering kehilangan karakter lokasi yang diinginkan pesan filmnya.

Lokasi yang digunakan film ini sudah memiliki materi artistik yang justru tidak boleh disentuh: rumah rumah kayu tradisionil dengan interior aslinya, mesjid tua khas Sumatra Barat, lorong berbatu yang berliku dll. Frame kamera yang ketat dan kabut artifisial digunakan untuk mengkoreksi

bidang gambar. Kostum putih kusut yang dipakai Ibrahim maupun Si Orang tua pengembara ditengah kostum kostum hitam petani tradisionil menjadil center of interest.

Franki Raden dengan latar belakang musisinya juga tidak eforia mengisi semua adegan dengan musik. Nyaris 80 persen film ini hening atau diisi sound efex.

Tiga pemain utama dalam Titian Serambut Dibelah Tujuh memang bermain luar biasa. Rahmat Hidayat, Sukarno M Noor dan El Manik. Tiga aktor ini mampu menghidupkan memberi roh sosok dalam skenario Asrul Sani justru dengan akting mereka yang sangat terkendali.

Asrul Sani menulis perwatakan tokoh dengan sangat realis dan manusiawi namun penuh kejutan. Penjahat yang tidak bernyali dan tergantung kepada orang yang ia kuasai dengan uangnya, guru agama yang menghindar memikul tanggang jawab, guru muda yang memahami kebenaran dan berahlak namun tetap punya rasa takut. Tidak digambarkan sebagai manusia super anak emas Tuhan yang seakan akan Tuhan memberikan jaminan perlindungan.

Film ini sebuah film dakwah yang disampaikan dengan plot cerita sederhana. Tokoh tokoh dibangun dengan sifat manusiawi dan secara keseluruhan sebuah film rendah hati. Mengutip sebuah tulisan seorang praktisi film ketika terlibat bicara tentang film ini : Film ini ( dan film relligi pada era itu ) bergerak pada ruang ruang sosial dan memecahkan masalah masalah sosial.

Dengan mengabaikan film bertema biografi tokoh Islam, film religi Islam saat ini mengkerut dan seperti kehilangan jiwanya dengan bergerak pada tema personal yang picisan. Seperti cinta dan poligami.

Televisi saat ini memberi andil besar dalam memberikan ruang dan kemasan lahirnya ustad selebritis yang bersikap dan tampil bak tokoh panggung. Juga selebritis yang memamerkan ke beragamaannya di televisi membentuk karakter yang kurang elok. Maka tokoh tokoh yang lahir dari film religi Islam baru pun merujuk pada gambaran ini.

Komersialisasi agama, ustad yang seakan akan pemilik satu satunya pesan Allah, manusia super dan raibnya kerendahan hati ulama. Kesalah pahaman terhadap Islam belakangan ini yang harus kita akui juga melanda Indonesia yang sayangnya juga menjangkiti umat Muslim sendiri.

Melahirkan ketakutan ketakutan atau bahkan tindakan berlebihan yang ekstrem. Film sebagai produk komersil merujuk dan sangat dipengaruhi pada kondisi sosial (dan politik). Karena itu penulis kawatir mungkin tidak pernah dibuat lagi film seperti ini sampai nanti entah kapan.

Pesan film Titian Serambut Dibelah Tujuh masih sangat relevan hingga hari ini. Ketika penguasa mampu membeli ulama dan cukup banyak ulama yang sengaja menjual diri. Ketika masyarakat yang memahami kebenaran memilih diam dan menunggu munculnya pemimpin yang sesungguhnya. Ketika yang lemah terperas oleh kekuasaan dan kebenaran terusir jauh jauh.

Film dibangun oleh banyak unsur salah satunya rumah produksi sebagai unsur yang paling menentukan dan melahirkan sebuah film. Rumah Produksi yang bersinggungan langsung dengan komersil dan bisnis unsur yang paling dioengaruhi dan memiliki kekuasaan memaksa arah dan pesan film. Masih ditunggu Rumah Produksi yang memiliki idealisme dan tidak dijangkiti ketakutan ketakutan yang tidak berdasar. Ruang ini akan terus menulis film film bagus untuk memperkenalkan kebaikan pesannya kepada penonton film. | HERMAWAN RIANTO, gambaridoep.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here