Beranda EVENT “Seperti Dendam, Kerja Keras Edwin dan Team Terbayar Lunas di Locarno!”

“Seperti Dendam, Kerja Keras Edwin dan Team Terbayar Lunas di Locarno!”

0

GAMBARIDOEP.COM – Sabtu, 14 Agustus 2021 menjadi booster emosional bagi dunia perfilman Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, film karya anak bangsa memenangi penghargaan tertinggi Golden Leopard di Festival Film Locarno di Swiss.
Film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” karya Sutradara Edwin, menjadi Best Film di sesi kompetisi internasional Concorso Internazionale. Mengalahkan competitor film terberatnya yang diunggulkan oleh dunia “Zeros and Ones”, karya sutradara veteran Abel Ferara asal Amerika, yang telah malang melintang di industri film Hollywood selama puluhan tahun.

Penghargaan bergengsi di salah satu festival film tertua ini pernah dimenangkan juga oleh sederetan sutradara yang menjadi Benchmark film dunia seperti Stanley Kubrick, Jim Jarmusch, Jafar Panahi, dan Mike Leigh.

Film yang diadaptasi dari novel mix-Genre karya Eka Kurniawan ini digadang-gadang sebagai salah satu adaptasi Genre novel “Picisan” atau “Pulp-Fiction” terbaik setelah era sutradara Auteur Quentin Tarantino. Genre ini pertama kali dipopulerkan di kalangan ekonomi bawah dalam bentuk majalah di awal abad ke-20 karena sifatnya yang meng-eksploitasi subjek-subjek sensasional dan seram. Kata “Pulp-Fiction” itu sendiri berasal dari Pulp (Bubur Kertas) murah yang digunakan sebagai bahan pembuatan kertas majalah, serta kualitas literaturnya yang rendah/picisan.

Quentin Tarantino mengangkat derajat Genre novel picisan ini lewat filmnya yang fenomenal “Pulp Fiction” (1994). Semenjak itu Genre ini kembali menjadi trend dengan sederetan sutradara Auteur dunia seperti Roberto Rodriquez yang ikut mempopulerkannya sejajar dengan Genre-Genre yang sudah lebih dahulu mapan.
Dibintangi oleh Marthino Lio (Ajo Kawir), Ladya Cheryl (Iteung), Reza Rahardian (Budi Baik), Ratu Felisha (Jelita), dan Sal Priadi (Tokek).

Film yang berjudul Internasional “Vengeance is Mine, All Other Pay Cash” ini mengambil latar tahun 80-an. Bercerita tentang romansa Ajo Kawir seorang jagoan Kampung yang tak takut mati – dengan Iteung seorang wanita yang hobi berkelahi karena termotivasi oleh stigma bahwa wanita harus menjadi tangguh untuk hidup di dunia ini. Ambisi dan perjalanan romansa mereka harus berhadapan dengan suatu rahasia – Ajo Kawir Impoten.

Kultur toxic akan stigma maskulinitas menjadi kritik social yang menggerakkan dramaturgi film berdurasi 114 menit ini. Untuk menghembuskan jiwa pada film yang menjadi tribute bagi film-film full aksi Asia tahun 80-an, Edwin sebagai sutradara mengambil langkah berani dan cerdas untuk menggunakan kamera analog dan media seluloid 16mm.

16mm memiliki ciri visual khas yang sulit direplikasi oleh media digital yang banyak digunakan saat ini. Keunikannya terlihat dari tekstur Grain nya yang kasar dan mentah. Hal ini memberikan efek impresionistik dan sensasi intimasi yang nostalgic. Menghasilkan semesta film nya sendiri yang utuh dengan pendekatan visual yang stylistic.
Selanjutnya film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” akan tayang di Toronto International Film Festival (TIFF) dalam sesi Contemporary World Cinema. Setelah berhasil meraih award Golden Leopard, akankah film ini dapat kembali menuai pujian di TIFF? Lets pray for the best.

Edo Aditya (Gamabaridoep.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here