Beranda EVENT Exlusive, Intimate Interview with “Yuni” Film Director, Kamila Andini

Exlusive, Intimate Interview with “Yuni” Film Director, Kamila Andini

0
Kamila Andini/ist
Salam Gambarideop….

Dalam pekan ini kami ini menyungguhkan satu sajian eksklusif untuk sebuah wawancara panjang dengan sang sutradara yang sedang menjadi sorotan di dunia film. Ia sineas muda potensial masa depan. Simak saja wawancara yang sangat dalam dengan Gambaridoep.com

— Redaksi 

GAMBARIDOEP.COM – After the thrill of watching Yuni in cinema, saya sangat excited karena akhirnya dapat mewawancarai Kamila Andini lebih dalam selaku sutradara film Yuni, serta visi kedepannya sebagai sutradara ber-aliran Art-House. Film Yuni sempat menjadi trending topic di twitter oleh respon-respon positif penontonnya yang sangat tersentuh dan relate dengan isu yang diusung.
Mengangkat isu perempuan-perempuan yang menjadi korban structural dari lingkungan dan tradisi yang cenderung patriakal. Seakan menjadi gaung dari suara-suara bisu yang selama ini terkungkung.
Setelah menjadi film pertama di Asia Tenggara yang memenangkan Platform Prize di Toronto International Film Festival (TIFF), Film Yuni juga memenangkan Snow Leopard dari Asian Film Award, Silver Hanoman dari Jogja Netpac, serta Best Actress di Red Sea International Film Festival di Jeddah, Arab Saudi. Yunipun terpilih untuk mewakili Indonesia di ajang Oscar ke-94 di dalam kategori Best International Feature Film.
Ber-Genre film remaja, namun sarat dengan pesan moral bagi para orang tua yang juga menontonnya.
Film Yuni dibuka dengan kontras kuat antara sensualitas dengan religiusitas. Menjadi planting awal benturan-benturan konflik dari kritik-kritik sosial yang sutradara sampaikan di sepanjang film.
Berikut ini petikan wawancara lengkap dan eksklusif Edo Amurwhabumi (gambaridoep.com) dengan Kamila Andini sang sutradara muda masa depan perfilman Indonesia selamat menyimak
Edo Amurwhabumi: Din (Kamila Andini), film Yuni dibuka dengan shot contrast yang kuat bila kita berbicara dalam konteks kultur Indonesia. I love it!. Apa yang kamu mau sampaikan disana dan kenapa memilih shot opening yang multi-layers tersebut?
Kamila Andini: Sebenarnya ada beberapa visual di Yuni seperti opening-nya, shot Yuni mengambang di air, dan beberapa shot lainnya itu visual yang pop-up aja waktu membicarakan topic ini awal-awal. Ada beberapa hal kenapa aku memikirkan opening itu:
Yang pertama, aku mau memulai dari apa yang semua orang lakukan setiap pagi. Despite gender, despite apapun pasti semua orang ganti bajukan tidak ada yang beda.
Yang kedua, aku mau ngeliatin layers juga. Apa yang Yuni dan setiap perempuan pakai setiap hari dalam menghadapi masyarakatnya.
Yang ketiga, ini yang paling esensial: Dari awal aku pengen keterbukaan kalau ngomongin remaja. Dan kita itukan ga semudah itu melihat orang ganti baju di depan kita. Kita harus dekat banget sama orang itu. Makanya aku pengen adegan itu di awal. Karena aku pengen Yuni memperlakukan penonton bukan kaya orang lain. Kita benar-benar langsung di kamarnya, lihat dia ganti baju. Kita benar-benar dekat dengan dia. Teman dia. Orang yang dia percaya. Bukan sekadar orang lain untuk bicara soal semua hal ini di dua jam kedepan. Aku ingin membangun kepercayaan itu dan memperlihatkan posisi penonton dimana. Makanya kebelakang kita lihat ga ada yang ditutupin sama Yuni. Penonton bisa melihat hal-hal yang sangat pribadi bagi Yuni, seperti isi handphonenya, bahkan isi google searchnya. Jadi semua ga ada yang ditutupin.
Edo Amurwhabumi: Jadi kamu menempatkan penonton di ruang kepercayaan si karakter. That’s why shot-nya selalu dekat seakan ada di samping Yuni?
Eksplorasi ini apakah baru dilakukan di Yuni, atau di 2 film sebelumnya juga sudah mengarah kesana?
Kamila Andini: Di dua filmku yang sebelumnya dilakukan dengan cara yang berbeda. Karena setiap cerita punya kebutuhannya masing-masing.
Kaya di Sekala-Niskala (Seen and Unseen, 2017). Aku berpikir bisa ga sih aku bikin film yang feelnya itu maghrib…terus. Karena maghrib itu buat orang Indonesia waktu yang exact. Tidak sperti di negara lain. Gerbang perpindahan waktu yang punya moment khususnya sendiri. Itu rasa yang menurutku sangat akrab dengan orang Indonesia atau Southeast Asia. Lebih daripada bangsa lain diluar sana. Makanya aku banyak mainin duality di Sekala-Niskala.
Edo Amurwhabumi:  So kamu tipikal director yang memperlakukan tiap filmmu itu totally new?
Kamila Andini: Yes, totally new. Karena aku selalu mencari jawaban-jawaban dari bahasa film tiap tema yang aku buat.
Edo Amurwhabumi: I see. Interesting. Tell me, Sosok orang tua di Yuni itu punya karakterisasi yang beda dari tipikal film-film remaja dengan tema serupa. Dimana orang tuanya malah biasanya menjadi antagonis cerita.. Apa yang mendasari kamu membangun sosok orang tua Yuni tersebut?
Kamila Andini: Aku melihat konflik itu di kalangan tersebut disini, dimana orang tua mereka pasti mau anaknya sukses, mau anaknya bisa mengubah hidup keluarganya jadi lebih baik. Tapi banyak yang ga tau gimana caranya menuju kesana. Kapasitasnya hanya bisa nemenin. Di Yuni sosok orang tuanya support, tapi tetap mentok. Gimana yang ga support? Udah selesai dong di 10 menit awal filmnya, hahaha…. Jadi antagonistnya disini itu konflik structural di sekitar Yuni. Karena semua karakternya adalah korban dari konflik structural tersebut. Termasuk orang tua Yuni. Tantangan terbesar dari perjalanan Yuni adalah untuk akhirnya dapat membuat keputusannya sendiri tanpa dipengaruhi oleh lingkungannya.
Edo Amurwhabumi: Jadi itu inti yang mau disampaikan dari Yuni? Sebagai remaja, kamu harus belajar memutuskan langkah krusial dalam hidupmu sendiri.
Kamila Andini: Konflik double-life society di film Yuni ini sangat kental. Dimana keputusan kita seringkali berdasarkan apa yang orang lain atau lingkungan inginkan. Kita ingin diterima. Kita ingin diakui. Padahal kan ini soal sejauh mana kita punya ruang untuk diri kita sendiri juga. Dimana keputusan itu adalah memang keputusan kita sendiri dan bertanggung jawab atasnya.
Edo Amurwhabumi: Salah satu element yang paling menonjol dari film Yuni itu Staging, blocking, dan aktingnya yang sangat natural. Sementara di 2 filmmu sebelumnya menggunakan gambar-gambar cantik bak postcard. Kenapa di Yuni ini “mengorbankan” ciri khas tersebut dan lebih berat ke staging nya?
Kamila Andini: Ada beberapa alasan sebenarnya. Yang pertama aku itu memang mau bikin tokoh Yuni sebagai karakter yang nyata. Jadi dalam hal ini realismenya yang di kedepankan. Yang kedua aku punya kebutuhan untuk menempatkan penonton selalu dekat dengan Yuni. Jadi ga bisa ngambil shot-shot yang lebar seperti postcard. Yang ketiga persoalan teknis di lapangan juga dan perkembanganku sebagai director. Ketiga filmku punya persoalan teknis lapangan masing-masing. Aku memaksimalkan ruang yang tersedia untukku sesuai karakter tiap ceritanya. Dan karena aku suka shot-shot yang efektif. Apalagi di Indonesia kita seringkali berhadapan pada ruang-ruang yang kecil.
Jadi aku banyak belajar dari cinema-cinema alternative Jepang, Korea, dan Asia lainnya.
Tentang bagaimana menempatkan shot-shot yang efektif kaya film-filmnya Ozu, Xiang Ming Liang, bahkan Wong Kar Wai. Bagaimana kameranya bisa bergerak terus dengan fluid tapi kita bisa dapat terus momentnya. Dan aku juga suka cutting frame-by-frame. Jadi memang takenya ga banyak dalam satu scene. Layaknya cinema Arthouse. Dari mereka sih belajarnya.
Nah dilapangan aku punya kebiasaan untuk menulis lagi scene-scenenya berdasarkan ketersediaan titik kamera dan lighting. Baru dari sana mengatur kembali blocking dan staggingnya. Meng-eksplore ruang-ruang yang ada. Karena aku mau pemainku juga punya relasi dengan ruangnya. Bukan Cuma tempat dia suting. Tapi sesuatu yang sangat personal bagi dia.
Edo Amurwhabumi: How you make it personal? Karena biasanya dalam setiap produksi film selalu terbentur oleh schedule yang tight bagi aktor dan kru film untuk punya waktu masuk lebih dekat ke ruangnya?
Kamila Andini: Di film Yuni ini aku minta mereka (actor dan aktris) untuk, misalnya menghias kamar mereka sendiri, nempatin benda-benda personalnya dimana – jadi aku memang ada sesi khusus untuk mereka membuat segala sesuatunya sangat personal dan punya sense of belonging yang tinggi. Sebelum suting semua pemain homestay disan untuk riset. Kaya sama 5 sahabat perempuan itu, aku ajak mereka ke mart disana dan biarkan mereka memilih tas mereka sendiri, tempat pensil mereka sendiri hingga ke jepit rambut mereka sendiri. Nanti kita diskusi, kenapa memilih barang-barang itu dan apa yang cocok dengan karakternya.
Jadi memang ada pendekatan-pendekatan yang sangat personal. Sangat organic banget. Bukan di design dan diarahkan oleh department artistic. Makanya mereka sendiri pas hari H juga mainnya udah nyatu dengan ruang dan karakternya.
Edo Amurwhabumi: Apakah Yuni akan menjadi jatidiri gaya film Dini yang baru? Atau masih mau mencari lagi?
Kamila Andini: Aku planning untuk bikin film sampai tua, Jadi aku membuka ruang untuk pengalaman-pengalaman dan perjalanan-perjalanan itu. Tapi untuk sekarang, kedepannya aku akan bikin film yang kontekstual dengan jaman. Kontekstual dengan aku sebagai pribadi saat ini. Aku yang dulu single tentu berbeda dengan aku yang sekarang married dan punya anak. Aku ga mau mikirin apakah filmnya nanti komunikatif atau eksperimental, karena setiap cerita punya kebutuhannya masing-masing.
Edo Amurwhabumi: So, its still a journey?
Kamila Andini: Iya, semuanya.
Edo Amurwhabumi: Menurut Dini sendiri. Style dari film Dini itu apa sih? Apa kedepannya berencana untuk menjadi Auteur Director?
Kamila Andini: Dari yang aku pahami Auteurship itu bukan sesuatu yang direncanakan. Tapi berupa kecenderungan. Dari default-default yang dia selalu lakukan di film-filmnya. Dulu sih aku ga tau kecenderunganku seperti apa. Hanya di titik ini aku juga sudah melihat kecenderungan-kecenderugan itu setiap kali aku nge-Direct. Misalanya sepert: ngomongin perempuan, memilih karakter utama perempuan. Itu bukan sesuatu yang aku plan. Tapi setiap aku nulis, kayanya susah banget kalau karakter utamanya cowok. Kaya aku ga ngerti dunianya.
Yang kedua, documentary aku itu selalu dari sociological approach. Bahkan di Sekala-Niskala kalau dilihat sebenarnya itu film bisa banget dibawa ke sisi fantasi. Tapi aku ga bisa. Kaya aku itu harus selalu grounded. Dengan ruangnya, dengan masyarakatnya, dengan budayanya…aku selalu merasa punya kebutuhan itu. Mungkin karena backgroundku di sociology. Aku juga suka banget ngolah relasi. Aku suka ngolah tiap relasi itu beda. Kaya di Yuni, setiap karakter anak itu beda banget. Aku juga sadar bahwa aku itu sangat realist. Aku punya sisi surrealist, tapi memang harus selalu masuk dari pintu realismnya.
Edo Amurwhabumi: Kenapa wanita? Apakah memang seorang Dini terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran feminist atau feminist film director seperti Jane Campion, or Nadine Labaki?
Kamila Andini: Sebenarnya kalau ngomongin feminism, aku sendiri masih bergerak sebagai feminist. Maksudnya aku itu masih ga tau sejauh mana sih aku bisa dibilang feminist atau mengerti soal feminism di titik ini. Walapun aku sangat tau keberpihakan aku, dan konteksnya. Tapi kan itu bergerak banget. Dari jaman dulu aku masih muda, I know feminism by text. Tapi by soul kan beda lagi.
Saat aku punya karakter perempuan, aku bisa masukin semua elemen seperti emosi; kompleksitas perempuanya ke dalam itu. Setelah beberapa kali nulis, aku sadar kalau aku bukan hanya suka ngomongin perempuan di wilayah makro. Aku juga suka banget ngomongin perempuan di wilayah mikronya, seperti: kebingungan mereka, perasaan-perasaan di dalam, ketakutannya, traumanya, hingga kebahagiaan-kebahagiaan kecilnya.
Lama-lama mau-ga mau aku jadi harus mencari tau soal feminist itu seperti apa sih. Dalam konteks feminism aku itu stand dimana sih? Jadi mulai memperhatikan potret perempuan di cinema, filmmaker-filmmaker perempuan. Tapi ketik aku bikin film ya bikin aja, memang metodaku itu selalu mencari. Meng-eksplore. Baru aku lihat kemudian, “Ohh..aku itu begitu ya.” Jadi film itu memang bahan reflektif untuk aku sendiri.
Akhirnya ada satu titik yang aku lihat dimana di dunia nyata dan di cinema, kalau mau menjadi perempuan yang keren itu harus keluar sisi maskulinnya. Harus kaya berani. Harus outspoken. Harus kaya cowok gitu. Aku juga suka banget nontonya, tapi aku ga kaya gitu sebagai perempuan. Aku itu cewek yang pemalu, penakut, bingung, ragu-ragu. Mesti berproses kalau mau melakukan sesuatu.
Edo Amurwhabumi: Jadi Dini mewakili suara perempuan di sisi lain?
Kamila Andini: Iya disisi lain ini kayanya boleh deh perempuan menjadi perempuan. Akhirnya aku mencoba berpihak dengan perempuan di sisi itu. Awalnya memang sulit. Karena kalau kita bicara formula protagonist di film itu harus punya goal yang jelas. Aksinya besar. Motivasinya jelas. Nah perempuan yang kaya gini apa? Motivasinya ga jelas, aksinya kecil gitukan. Nah ini yang kemudian yang aku cari dan olah. Makanya kalau lihat Yuni kan dia itu berani, tapi beraninya baru segitu. Dan dia juga masih ragu-ragu. Karena buatku ngomongin feminism di Indonesia itu ga kaya di barat, Kita ga mungkin change the light bulb gitu aja. Karena karakter kita yang ga konfrontatif, memendam. Jadi every step itu matters buatku. Dan itu yang coba aku kasih liat juga di film-filmku. Step kecil aja itu matters banget untuk nanyak orang. Berani nolak aja udah big deal disini. Aku mau berpihak pada perempuan-perempuan Indonesia, Perempuan-perempuan timur. Yang bahkan masih butuh proses untuk bersuara. Disitu akhirmya aku menemukan stand-point ngomongin feminism dimana, apa yang mesti di kedepankan.
Edo Amurwhabumi: Ending. Kenapa film yang dibangun dengan realisme sejak awal, but so sudden ended with surrealist scene?
Kamila Andini: Sebenarnya itu berproses ya. Endingnya itu buatku paling tricky. Bahkan sampai sekarangpun, aku sebagai kreatornya masih mempertanyakan “Ini works ga sih sebenarnya?” hahaha..
Karena aku punya bayangan itu di kepala gimana perempuan di api unggun nyanyi bareng. Tapi secara eksekusi itu nyari terus. Tapi akhirnya aku berpikir ini harus undies sih kayanya, karena di sepanjang Yuni kan terus colorful..vibrant..dan itu kan yang selalu dilihat dari perempuan. Padahal didalamnya sangat monochrome. Dan kita juga melihat diawal dengan skin, jadi aku ingin mengakhirinya juga dengan skin. Kembali lagi ke awal.
Edo Amurwhabumi: Itukan lagi-lagi jadi contrast. Karena dari awal dibangun dunia yang grounded dan realist, namun di ending tiba-tiba menjadi surrealist. Kenapa kamu memilih surealisme sebagai ending film Yuni?
Kamila Andini: Karena memang Yuni endingnya itu open-ending banget. Aku Cuma mau Yuni memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri. That’s all. Nah aku itu butuh impresi. Impresi akan sesuatu yang diomongin di film ini. Ending Yuni menjadi summaries akan apa yang sebenarnya aku omongin. Walaupun film ini berjudul Yuni, tapi disini ada banyak suara perempuan lain. Secara impact memang scene ending ini sesuatu yang aku mau. Tapi memang masuknya lepas banget di akhir. Dan itu jadi catatanku karena ini benar-benar patah. Walaupun metapor yang digunakan masih literal, scene ini memang guilty pleasure banget buatku.
Edo Amurwhabumi: I see..very interesting. Last, ada kata penutup yang ingin disampaikan dari film ketigamu ini?
Kamila Andini: Sebagai director mungkin aku masih in a journey. Da di film Yuni ini aku mulai menemukan approach-approach personalku dalam hal teknis, acting pemain, dan casting itu aku handle sendiri. Karena cast buatku penting banget. Bahkan aku tuh casting sebelum lock-script draftnya. Karena aku pengen di draft-draft akhir itu udah nulis berdasarkan cast-cast yang aku punya.
Karena di draft-draft terakhir itu aku biasanya udah grounded banget. Kaya dari hal personal unik castnya gimana, aku masukin ke script. Atau ruangnya gimana juga, dan apa yang aku temuin di lokasi aku masukin ke script. Jadi ditulis terus secara organic.
Edo Amurwhabumi: Ahh I see..jadi scriptnya terus bermetamorfosa secara organic. Dan itu rahasia dari acting pemain-pemainmu yang sangat natural.
Kamila Andini: Iya…Hahahaha..Karena di script udah dengan karakter mereka. Pendekatan ke ruangnya yang mendalam…terus juga pendekatan ke setting dan lain-lain.
Edo Amurwhabumi: Thank you Dini..its been a wonderful interview.
sharing Kamila Andini mengenai rahasia akting para pemainnya yang sangat natural, dan penemuan approach personalnya di film Yuni ini mengakhiri wawancara kami. Saya sebagai kritikus film, memandang Yuni sebagai film Indonesia terbaik di dekade ini.
Saat artikel ini ditulis, pengumuman 15 shortlist untuk kategori International Feature Film pada ajang Oscar ke-094 sudah keluar. Sangat disayangkan Yuni tidak berhasil lolos.
Dikutip dari Instagram Story Kamila Andini “Dari pengalaman ini saya belajar bahwa film (seperti juga perempuan) tidak bisa sendirian. Film yang baik saja (seperti juga perempuan yang pintar saja) tidak cukup. Butuh support system dan juga ekosistem yang kuat untuk bisa muncul, bersuara, terlebih lagi bersaing.”
Din, keep doing great things and grow along your journey! (GIC=ame)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here